Topan Heynan dan Badai Korupsi di Indonesia

Loading

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

SEBAGAI sesama keluarga besar masyarakat ASEAN, kita berduka atas musibah akibat topan Heynan di Filipina. Tiada kata yang dapat kita ucapkan kecuali kita harus berupaya untuk dapat membantu secara material dan spiritual bagi para korban dan kerugian yang ditimbulkan. Topan Heynan, tsunami, atau badai tornado, bisa datang dan pergi menelan korban nyawa dan harta.

Badai korupsi adalah peristiwa kemanusiaan yang jauh lebih dahsyat dari bencana alam seperti itu. Kedahsyatannya luar biasa karena dampak yang ditimbulkan sangat destruktif yang bisa membangkrutkan negara, menimbullkan efek dekadensi moral, dan hancurnya peradaban. Indonesia mengalami dua-duanya, yakni tsunami di NAD, gunung meletus, banjir bandang, dan bencana korupsi.

Di Indonesia, badai korupsi sudah menjadi endemi yang mengerikan, karena mewabah sistemik yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Episentrumnya berada pada wilayah kekuasaan.Tanda-tanda untuk berlalu belum kelihatan, malah ketika terbongkar satu per satu, penyakitnya sudah menyebar dari ujung kepala sampai ke ujung kaki seperti kanker stadium empat.

Gerakannya sudah masuk ke ranah pencucian uang, tapi kelakuan para aktornya tidak pernah dicuci, karena otaknya ngeres kalau melihat fulus. Karena kita ber-Tuhan, maka badai korupsi yang mewabah di negeri ini harusnya bisa segera berlalu. Untuk selanjutnya para pelaku dan sekaligus para penyebar virusnya diborgol dan dipenjarakan serta diiringi pertobatan.

Indonesia ke depan harus bersih dari virus korupsi yang endemik. Lima belas tahun berdemokrasi hanya berhasil menyuburkan KKN. Ibarat nonton film, dari awal hingga akhir kita hanya bisa menyaksikan bagaimana para predator memainkan perannya sebagai koruptor yang ganas sampai kita muak dan marah. BMKG memberikan penjelasan bahwa syukur topan Heynan tidak melewati wilayah Indonesia.

Namun, jangan senang dahulu karena Indonesia menjadi pusat gempa KKN yang dampaknya lebih mengerikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dibandingan dengan topan.

Saking asyiknya sedang berlomba adu cepat merampok uang rakyat program route to AEC tahun 2015 tidak ada yang mikirin kita harus ngapain. Indonesia tampaknya lebih suka menggunakan strategi “waton ngglundung” atau “bondo nekad” (bonek).

Nakhodanya lagi sibuk nyiapin menulis buku sebagai legacy-nya. Semoga saja Indonesia tidak bangkrut dan menjadi negara yang gagal berdemokrasi. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS