Panggung Teater

Loading

Oleh: Edi Siswojo

Ilustrasi

Ilustrasi

ENTAH karena alasan apa, yang pasti pertujukan seni drama di panggung teater boleh dibilang langka. Teater sebagai forum terbuka dan demokrartis yang bisa dinikmati banyak orang seperti mati suri. Tapi, masyarakat masih bisa ketawa sampai perutnya sakit atau mukanya ditekuk saat menyaksikan refleski perikehidupan masyarakat melalui suatu lakon yang dimainkan di atas panggung reformasi sekarang ini.

Lho, kok bisa begitu ? Ya, bisa saja. Soalnya, kehidupan sosial itu bukan benda statis. Situasi dan kondisi kehidupan sosial juga dinamis bagi pertumbuhan dan perkembangan panggung teater. Saya tidak tahu persis alasanya. Saya hanya tahu Teater Koma sudah lama absen di panggung teater Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM).

Maka, tak berlebihan kalau Ahmad Akbar penyanyi grup band “Godbless” di era 1980-an meneriakan ”Dunia ini Panggung Sandiwara”. Tak juga mencari sensasi kalau Riantiarno dari Teater Koma menampilkan “Kecoa” dan “Suksesi” yang pernah menghebohkan itu. Di era 2000-an masyarakat penonton boleh muntah di depan televisi menyaksikan drama percintaan atau perselingkuhan.

Konon, panggung teater sebagai forum terbuka menjadi medium refleksi kehidupan sosial. Teater sering juga disebut sebagai kanalisasi demokrasi. Di panggung itu orang bisa menyampaikan isi hatinya dan pada saat yang sama orang lain juga bisa membantahnya. Di depan panggung penonton bisa ketawa bebas menyaksikan perilaku orang di masyarakat, termasuk dirinya sendiri.

Sama donk dengan pertunjukan di panggung DPR? Ya, bisa sama bisa juga tidak. Yang jelas, panggung teater dan panggung DPR sama-sama bersifat terbuka dan demokratis. Sama-sama menjadi kanalisasi aspirasi perkehidupan rakyat. Bisa jadi lantaran itu pertunjukan drama komedi “Sri Mulat” yang pernah berjaya tahun 1980-an di Taman Ria Senayan–di dekat gedung DPR–tak bisa mengocok perut penonton lantaran kalah “lucu” dengan pertunjukan di gedung sebelahnya.

Sebagai kanalisasi demokrasi panggung teater memang menarik di era ketertutupan. Di era keterbukaan panggung teater tampil beda. Tapi, masyarakat penonton masih bisa menangis menyaksikan drama reformasi, masih bisa perutnya mules menikmati lakon drama Bank Century atau ketawa terpingka-pingkal bersama lakon Mafia Anggaran yang tak tahu kapan akan berakhir !***

CATEGORIES
TAGS