Kabinet Bayangan Lahir Karena Pemerintah dan DPR tak Bisa Diharapkan Lagi

Loading

 

 

 

 

 

 

MAKASSAR, (tubasmedia.com) – Menteri Keuangan dan Tata Kelola Anggaran Kabinet Bayangan, Bhima Yudhistira menyebut pemerintah tak bisa lagi diharapkan. Begitu pula dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Hal tersebut diungkapkan saat Roadshow Ketimpangan di Kopi Aspirasi, Makassar, Senin (3/8/2026). Digelar Center of Economic and Law Studies (Celios) bekerja sama dengan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah.

Itu bermula saat Iwan Dento, aktivis lingkungan asal Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) menyampaikan pengalaman dan gagasannya dalam Roadshow Ketimpangan tersebut. Iwan dan Bhima sama-sama pembicara dalam kegiatan itu.

Iwan bilang, di tempatnya di Rammang-Rammang, warga berusaha untuk mandiri. Baik pangan, pengolahan sampah, hingga energi.

Menurutnya, semua itu merupakan upaya mandiri. Baginya, berharap dengan pemerintah merupakan kesalahan. “Kesalahan terbesar hari ini berharap pada pemerintah,” kata Iwan.

Bhima yang mendapat giliran berbicara setelah Iwan pada diskusi itu pun menimpali. Dia mengaku setuju.

“Berharap pemerintah kesalahan terbesar, saya setuju,” kata Bhima, yang juga merupakan Direktur Eksekutif Celios.

Bhima menyebut sebenarnya pemerintah saat ini juga tidak Percaya Diri (PD). Imbas sejumlah survei yang menyebut kepercayaan terhadap pemerintah menurun.

“Bertingkat semaunya juga mereka tidak PD,” ujar Bhima.

Di sisi lain, Bhima mengatakan tak hanya eksekutif yang hari ini tak bisa dipercaya. DPR sebagai lembaga legislatif pun demikan.

“Berharap pada DPR, mereka juga semuanya terkonsolidasi,” terangnya.

Itulah kenapa, kata Bhima, kabinet bayangan hadir. Sebagai jawaban atas peran oposisi yang tidak ada hari ini.

“Makanya bikin kabinet bayangan kan. Saking frustasinya tidak ada oposisi,” imbuh Bhima.

Alasan Membentuk Kabinet Bayangan

Sebelumnya, Feri Amsari juga mengungkapkan alasan pembentukan kabinet bayangan. Hal itu diungkapkan dalam siniar di YouTube Mahfud MD Official.

Di siniar itu, Feri menjelaskan, alasan pembentukan kabinet bayangan sebenarnya karena tidak sengaja.

“Awal mulanya sih sebenarnya nggak sengaja. Karena keresahan, kita yang belajar hukum tata negara. Kok sistem presidensial aroma parlementernya mulai kental keras,” ungkap Feri yang menjabat Menteri Sekretaris Negara Kabinet Bayangan.

Dia memberi gambaran, bagaimana sistem pemerintahan saat ini berjalan.

“Misalnya ada menteri yang melapor wakil Ketua DPR, Wakil Ketua DPR melapor pada presiden, Wakil Ketua DPR tiba-riba menunggu kabinet ketika dilantik, diumumkan di samping presiden,” papar Feri.

Berakar dari situ, muncul lah ide. Bagaimana menghadirkan gerakan yang kental dengan sitem parlementer, seperti kabinet bayangan.

“Kepikiran kita, asik juga kali ya kalau ada kabinet bayangan yang teorinya itu antara pemerintah dan oposisi. Pemerintah kalau ada Menteri Keuagan maka ada oposisi menteri bayangan keuangannya, begitu seterusnya,” jelasnya.

Kabinet tersebut, terdiri dari 15 orang. Membayangi puluhan menteti dan kepala lembaga di Kabinet Merah Putih.

“Kalau ada menteri yang tidak mumpuni bisa habis dan dipermalukan di depan publik dia,” terangnya.

Tujuannya, kata dia, supaya rang tahu, kabinet itu nggak bisa diisi orang yang tidak mumpuni. Minimal dia betul-betul mampu menjelaskan gagasan dan kira-kira bagaimana mengimplementasikan gagasannya.

“Kita mau semacam kritik, kalau Anda ngwaur jalankan sistem preisdesial, kami kasih tau apa yang sebenarnya,” imbuhnya. (sabar)

 

 

 

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS