Industri Pangan Indonesia Bidik Posisi di Rantai Nilai Global
![]()
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat produksi, inovasi, dan investasi pangan di tingkat global. Peluang tersebut didukung kekuatan industri manufaktur, sumber daya alam, dan pasar domestik yang besar.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berkomitmen untuk memperkuat struktur industri pangan melalui percepatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah bahan baku lokal, penguatan standar mutu, serta perluasan kemitraan dan akses pasar internasional.
Langkah ini semakin penting seiring perubahan preferensi konsumen global yang menempatkan aspek kesehatan, keamanan pangan, kualitas, dan keberlanjutan sebagai pertimbangan utama.
Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis World Bank, nilai tambah industri manufaktur Indonesia mencapai USD 275,61 miliar. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, mengungguli Thailand, Vietnam, Singapura dan Malaysia.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai nilai industri pangan regional maupun global.
“Industri manufaktur kita semakin solid. Ke depan, kekuatan ini harus diterjemahkan menjadi produk yang bernilai tambah, berkualitas, inovatif, dan berdaya saing di pasar global,” ujar Faisol saat pembukaan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 beberapa waktu lalu.
Mamin Sektor Strategis
Menurutnya, industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki posisi penting dalam memperkuat struktur manufaktur nasional. Karena itu, pemerintah berkomitmen membangun ekosistem industri pangan yang mampu menjawab tuntutan konsumen sekaligus memenuhi standar pasar internasional.
“Kami berkomitmen memperkuat ekosistem industri pangan yang halal, sehat, inovatif dan berkelanjutan. Penyelenggaraan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 menjadi momentum penting untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi dan mitra internasional dalam memperkuat kolaborasi, termasuk dalam transfer teknologi dan pengetahuan,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan ekspor produk mamin Indonesia mencapai USD83,08 miliar pada 2029 dengan rata-rata pertumbuhan 10,9 persen per tahun. Untuk mencapai target tersebut, Kemenperin memfokuskan kebijakan pada percepatan hilirisasi berbasis sumber daya alam lokal, peningkatan utilisasi pabrik hingga 70 persen, peningkatan ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi, serta perluasan penetrasi ke 20 negara tujuan ekspor baru di kawasan Amerika, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan. (sabar)

