Mahasiswa Makassar Kritik Pedas Proyek MBG dan Kopdes MP

Loading

 

 

MAKASSAR, (tubasmedia.com) – Aksi unjuk rasa mahasiswa di Jalan AP Pettarani, Kecamatan Rappocini, Makassar, Kamis (27/8/2026) sore, sempat memanas.

Situasi memanas setelah sejumlah mahasiswa membakar ban di tengah jalan. Polisi yang berjaga langsung berupaya menghentikan aksi tersebut dengan menyingkirkan ban yang terbakar ke pinggir jalan.

Polisi menyebut sebelumnya telah ada kesepakatan dengan mahasiswa agar tidak melakukan pembakaran ban selama aksi berlangsung.

Namun, saat situasi lengah, sejumlah mahasiswa kembali membakar ban di badan jalan. Petugas yang mengetahui hal tersebut langsung bergerak dan menendang ban yang terbakar ke sisi jalan.

“Sudah disepakati tadi tidak ada bakar ban, ini masih bakar ban,” cetus salah seorang Polisi sambil menendang ban yang dibakar mahasiswa tersebut.

Kontak Fisik

Upaya polisi menyingkirkan ban tersebut mendapat perlawanan dari mahasiswa. Ban yang telah didorong ke pinggir jalan kembali ditendang mahasiswa ke tengah jalan.

Situasi kemudian berujung pada kontak fisik antara sejumlah mahasiswa dan petugas kepolisian. Beberapa mahasiswa sempat terjatuh setelah terlibat aksi saling dorong dan adu badan dengan petugas yang melakukan pengamanan.

Meski ban yang dibakar telah disingkirkan, mahasiswa tetap melanjutkan aksi. Mereka menggunakan mobil peti kemas sebagai panggung untuk menyampaikan aspirasi.

Sesekali, sejumlah mahasiswa turun dan berdiri di badan jalan yang masih dibuka untuk kendaraan. Dari atas mobil peti kemas, orator menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Banyak Ladang Korupsi

“Ada banyak ladang korupsi di rezim pemerintahan Prabowo-Gibran, seperti MBG dan Koperasi Merah Putih,” teriak orator di atas mobil peti kemas sambil mengepalkan tangannya.

Kritik mahasiswa juga terlihat dari sejumlah spanduk yang dibentangkan di lokasi aksi.

Salah satu spanduk menyoroti tuntutan publik terhadap pemerintah. Pesan yang dibawa mahasiswa menyebut angka 17+8 sebagai simbol suara rakyat yang harus diperhatikan.

“17+8 bukan sekadar angka, itu suara rakyat, tuntaskan sekarang. Rezim binatang,” tulis Mahasiswa dalam spanduknya.

Spanduk lainnya berisi tuntutan agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.

“Evaluasi total kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat (MBG, Kopdes),” tertulis pada spanduk lainnya.

Dalam orasinya, mahasiswa menilai masyarakat akan semakin terdampak apabila berbagai persoalan tidak segera ditangani.

“MBG yang tidak tepat sasaran itu betul-betul tidak terealisasikan di masyarakat. Masyarakat akan menderita jika mendiami masalah ini,” tegasnya.(sabar)

 

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS