Wawancara Imajiner dengan Para Pemimpin
![]()

Oleh: Fauzi Aziz
PARA pemimpin adalah orang-orang terpilih dan dipercaya menjalankan tugas kepemimpinannya. Karena itu, bagi yang dipimpin menaruh harapan besar agar orang-orang yang terpilih berhasil memikul tanggungjawabnya dengan penuh tanggungjawab.
Beberapa pertanyaan berikut dan jawabannya secara imajiner dapat disampaikan beberapa perspektifnya. Tentu semuanya bersifat subyektif, meskipun ada beberapa hal yang bersifat obyektif. Pertanyaan pertama, apakah saudara bersedia menjadi pemimpin yang mampu membawa misi kemanusiaan dan bisa memuliakan manusia di muka bumi. Jawabnya rata-rata mengatakan Insya Allah bagi yang beragama Islam, yang non muslim Semoga Tuhan Memberkati. Ada yang menjawab dengan optimisime dan tegas mengatakan “Yes We Can”.
Bagus kata saya. Lanjut ke pertanyaan kedua. Wahai para pemimpin, apakah anda cinta damai dan benar-benar percaya bahwa kedamaian adalah sumber kemaslahatan bersama. Jawabnya dengan penuh percaya diri mengatakan kita pasti mendambakan perdamaian abadi di muka bumi.
‘’Karena dengan kehidupan yang damai, kita akan mendapatkan yang terbaik di dunia’’. Mantap kali jawabannya. Bapak memang cocok menjadi pemimpin yang patut dipantaskan memimpin sebuah negeri. Sulit mencari pemimpin yang mempunyai komitmen cintai damai. Perdamaian dan kedamaian memang cita-cita kemanusiaan yang paling luhur. Tapi ternyata tidak mudah mewujudkannya karena diakui atau tidak, faktanya peperangan dan konflik tetap terjadi dimana-mana di dunia akibat para pencinta damai juga suka senang melakukan penjajahan, invasi dan infiltrasi.
Pertanyaan ketiga. Bagaimana anda para pemimpin memandang konsep kehidupan politik dan ekonomi. Jawabannya adalah bahwa politik harus demokratis dan ekonomi harus bebas hambatan. Demokrasi hahekatnya hak azasi milik rakyat dan ekonomi adalah urusan rumah tangga rakyat.
Karena itu, kegiatannya tidak boleh dihambat. Semua kegiatan ekonomi harus lancar karena kegiatan ekonomi adalah sumber kehidupan bagi rumah tangga rakyat dari yang kaya sampai yang miskin seka lipun.
Politik semestinya tidak serta merta hanya membicarakan urusan kekuasaan. Politik adalah pengayom, pelindung dan pemberi jalan bagi rakyat untuk mewujudkan rumah tangga rakyat yang makmur dan sejahtera.
Jadi politik itu harus berperan menjadi penjaga ketertiban, bukan malah membuat kegaduhan. Politik harus cinta damai. Karena itu, tidak boleh melakukan invasi, infiltrasi militer, politik, ekonomi dan sosial budaya.
Tidak boleh bersikap negara lain adalah musuh karena tidak melaksanakan demokrasi dan liberalisasi ekonomi. Atau dinilai tidak sesuai dengan konsep yang ditawarkan.
Kalau masih memandang negara lain tidak demokratis, maka sejatinya mereka tengah bersikap anti demokrasi karena mereka menginjak-injak hak demokrasi negara lain.
Pertanyaan keem pat. Apa tanggapan anda tentang globalisasi dan perdagangan bebas. Dengan lantang sang pemimpin mejawabnya dengan sigap. Globalisasi ada keniscayaan akibat perkembangan teknologi informastika.
Nilai keniscayaannya ada disitu dan sebab itu kita harus percaya seperti apa adanya. Namun, dengan sigap pula pak pemimpin ada yang berani menyampaikan bahwa ketika globalisasi disambung dengan perdagangan bebas, maka ini sudah masuk kategori tindakan yang bersifat politis.
Ada pencerahan yang tidak tepat. Globalisasi dan perdagangan bebas digoreng menjadi isu politik. Dalam pidato politik yang berapi-api sang pemimpin menyampaikan pikirannya sendiri sebagai “New Deal”. Kita tidak anti globalisasi dan tidak pula anti perdagangan bebas.
Tapi saya ingin mengatakan perdagangan bebas itu ada, tapi sejatinya tiada. Sang pemimpin beragumentasi bahwa mengapa ada, tapi tiada. Penegasannya makin menggelora bahwa perdagangan itu yang utama bukan bebas, tetapi bagaimana para pihaknya dapat menjamin proses distribusinya berjalan lancar, just in time.
Kita harus jujur bahwa proteksi hak imunitas setiap negara untuk melindungi kepentingan nasional bila terjadi ancaman. Ekonomi bebas hambatan yang diperlukan dunia dan semua pihak harus bisa menghormati ketika tiba-tiba ekonomi nasionalnya terancam.
Jadi proteksi adalah keniscayaan seperti halnya globalisasi. Dunia memerlukan tatanan baru untuk mewujudkan dunia baru yang damai, bersahabat dan bekerjasama satu sama lain untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan. Makmur dan sejahtera bersama.
Pertanyaan kelima. Apa yang harus dilakukan para pemimpin dunia ketika dunia makin bergerak menuju ketidakpastian. Jawaban yang kita peroleh cukup mengagetkan. Kita harus berdoa seraya bertobat kepada Tuhan, karena kita manusia sudah terlalu banyak menim bulkan kerusakan di muka bumi.
Jawaban berikutnya juga tak kalah mengagetkan bahwa di dunia ini kita sudah terlalu banyak berbuat seenaknya sendiri, mau menang sendiri, tak banyak peduli dengan negeri tetangga yang belum maju, sehingga dunia ini memang perlu ditataulang.
Kita selamatkan bumi tempat kita berpijak, sebelum Sang Pemilik mengambil keputusan final bahwa kehidupan di muka bumi harus segera diakhiri.
Luar biasa suara hati sang pemimpin ini. Kesimpulan dari wawancara imajiner dengan para pemimpin ini sebagai berikut:1). Mengu rus dunia dan bumi seisinya tidak boleh melepaskan diri dari campur tangan Tuhan dalam segala hal agar kita tidak tersesat. Tuhan adalah maha pemberi petunjuk dan maha bijaksana dan adil.
2). Para pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, baik oleh yang dipimpin, atau yang memberikan mandat, yakni Tuhan Yang Maha Esa ketika para pemimpin dipasrahi sebagai wakil Tuhan di muka bumi.3). Urus bumi seisinya dengan baik dan benar serta bijaksana. Indonesia sudah ada yang mengurus, sehingga negara lain tidak berhak untuk ikut mengurusnya, kecuali hanya campur tangan Tuhan.
4).Semoga dunia makin damai dan kita semua makin mencintai perdamaian dan makin menjauhi peperangan dan konflik. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi).
