Rencana Prabowo Mencetak Ulang Buku Pelajaran SD-SLTA Dikecam, Ferry Koto; Kenapa tidak Naikkan Kesejahteraan Guru ?

Loading

 

 

 

 

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Rencana pemerintah mencetak ulang buku pelajaran pada jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) tengah menjadi sorotan.

Isu tersebut mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan pengecekan terhadap sejumlah buku pelajaran. Ia meminta agar kualitas buku-buku tersebut diperbarui.

Pernyataan Prabowo tersebut kemudian memantik banyak komentar. Salah satunya datang dari pegiat media sosial Ferry Koto.

Dalam unggahannya, Ferry menyoroti rencana pencetakan ulang buku tersebut, khususnya dari sisi kebutuhan anggaran pendidikan serta sejumlah persoalan lain yang masih dihadapi sektor pendidikan.

Ferry khawatir adanya masukan kepada Prabowo yang dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan pendidikan saat ini.

“Perbicangan di group-group pendidikan makin intens soal rencana cetak ulang buku pelajaran SD-SLTA. Sy khawatir, Pres Prabowo dapat masukan yg keliru dr pihak2 yg tdk paham apa yg prioritas saat ini di pendidikan Indonesia,” ungkapnya, dikutip dari Threads, Selasa (11/8/2026).

Menurut Ferry, rencana pencetakan ulang buku pelajaran perlu dilihat dari besarnya kebutuhan anggaran yang nantinya digunakan. Sebab, tidak sedikit biaya yang dibutuhkan jika buku pelajaran dari jenjang SD hingga SLTA harus dicetak ulang.

“Akan besar sekali anggaran yg dibutuhkan mencetak buku tsb. Bisa-bisa menyedot sebagian besar Anggaran Pendidikan (AP),” sambungnya.

Tingkatkan Kesejahteraan Guru

Sorotan Ferry tersebut berkaitan dengan alokasi Anggaran Pendidikan (AP) dan perubahan pembiayaan sejumlah program pemerintah. Salah satu yang disinggungnya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurut Ferry baru saja dikeluarkan dari Anggaran Pendidikan.

Menurut Ferry, akan lebih baik jika ruang anggaran tersebut digunakan untuk merealisasikan usulan Prof. Abe Mukti mengenai kenaikan gaji guru dan tenaga kependidikan yang dinilainya lebih mendesak.

“Padahal baru saja MBG dikeluarkan dari AP, sehingga ada ruang tadz Prof Abe Mukti untuk usulkan kenaikan gaji Guru-Tendik yg paling mendesak diselesaikan,” jelasnya.

Ia menilai persoalan penghasilan tenaga pendidik tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan pekerja, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah.

“Meningkatkan kesejahteraan Guru ini juga dapat berdampak pada kualitas pengajaran di sekolah. Selain tentu perbaikan dan peningkatan sarpras Sekolah,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ferry menyebut Buku Sekolah Elektronik (BSE) dan Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) sebagai sarana yang menurutnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan revisi terhadap materi buku pelajaran.

“Semoga tadz Abe Mukti bisa memberikan masukan ke Presiden agar memprioritaskan kenaikan Gaji Guru dan Tendik, daripada mencetak ulang buku yang bisa dilakukan lewat revisi di BSE/SIBI,” tegasnya. (sabar)

 

 

 

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS