Prabowo yang Sebut Saking Pinternya Jadi Goblok, Tuai Kontroversi, Indrawan; Apakah Kepintaran Bisa Membuat Seseorang Jadi Bodoh

Loading

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyindir pihak yang disebutnya sebagai pakar dengan kalimat “saking pinternya jadi goblok” menuai kontroversi.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam acara HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Kamis, 18 September 2026 lalu.

Banyak pihak melayangkan kritik terhadap sikap seorang pemimpin negara yang berbicara di hadapan forum publik.

Salah satunya praktisi komunikasi Indrawan Nugroho yang mengaitkannya dengan salah satu riset psikologi paling dikenal, yakni fenomena Dunning-Kruger.

Indrawan mempertanyakan satu hal mendasar: apakah kepintaran justru bisa membuat seseorang menjadi bodoh? Pertanyaan itu disampaikan lewat unggahan di Instagram pribadinya.

“Presiden Prabowo bilang pakar itu saking pinternya jadi goblok. Padahal riset psikologi yang paling terkenal soal ini justru menunjukkan arah sebaliknya,” ujar Indrawan dikutip Senin (21/9/2026).

Ia kemudian menjelaskan penelitian psikolog David Dunning dan Justin Kruger yang diterbitkan pada 1999. Penelitian tersebut menguji kemampuan mahasiswa dalam sejumlah bidang, termasuk penalaran logis, tata bahasa dan humor.

Ada Kesenjangan

Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan aktual seseorang dan cara mereka menilai kemampuan dirinya sendiri.

Dalam temuan yang kemudian menjadi dasar Dunning-Kruger Effect, peserta dengan kemampuan paling rendah justru cenderung memperkirakan kemampuan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan posisi sebenarnya.

“Peserta dengan skor paling rendah yang sebenarnya hanya mengalahkan sekitar 12 dari 100 orang justru merasa dirinya bisa mengalahkan sekitar 62 dari 100 orang. Artinya mereka yang kemampuannya paling lemah justru menilai dirinya lebih hebat dibandingkan kebanyakan orang,” jelasnya.

Menurutnya, fenomena tersebut terjadi karena seseorang membutuhkan pengetahuan tertentu untuk dapat mengenali kesalahan dalam pekerjaannya sendiri.

“Karena untuk menyadari bahwa hasil kerja kita salah, kita perlu tahu dulu bagaimana cara mengerjakannya dengan benar,” katanya.

“Kalau pemahaman itu belum ada, maka kesalahannya pun jadi nggak kelihatan, kan?” lanjutnya.

Lebih Rendah Dari yang Lain

Menariknya, fenomena tersebut juga memiliki sisi lain. Kelompok yang memiliki kemampuan paling tinggi dalam penelitian Dunning dan Kruger justru tidak selalu menilai dirinya sebagai yang paling unggul. Mereka cenderung memperkirakan kemampuannya lebih rendah dari posisi sebenarnya.

“Nah yang menarik, kelompok dengan skor paling tinggi justru tidak merasa dirinya paling pintar. Mereka cenderung menilai posisinya lebih rendah dari kenyataan. Karena mengira orang lain juga sama kompetennya,” imbuhnya.

Indrawan kemudian menghubungkan temuan tersebut dengan penelitian Benjamin Walker dan Lauren Keating mengenai cara masyarakat mengenali seseorang sebagai ahli.

Walker dan Keating meneliti bagaimana orang membentuk “teori” mengenai siapa yang layak disebut ahli. Salah satu temuan yang mereka soroti adalah pentingnya kemampuan seseorang untuk mengakui keterbatasan pengetahuannya sebagai salah satu sinyal keahlian.

“Peneliti Benjamin Walker dan Lauren Keating bahkan menulis bahwa kemampuan mengakui batas pengetahuan bisa menjadi sinyal keahlian. Sama pentingnya dengan gelar dan kepercayaan diri,” terangnya.

Karena itu, menurut Indrawan, keraguan terhadap kemampuan diri tidak otomatis menunjukkan kebodohan. Sebaliknya, keyakinan yang sangat tinggi terhadap diri sendiri juga tidak otomatis menjadi bukti seseorang benar-benar ahli.

“Jadi keraguan bukan berarti bodoh. Dan keyakinan yang tidak pernah diuji juga bukan berarti ahli,” ujarnya.

Indrawan lantas membawa persoalan tersebut ke konteks organisasi dan kepemimpinan.

“Di organisasi Anda, siapa yang paling cepat diberi panggung? Yang paling yakin atau yang paling siap diuji?” pungkasnya.(sabar)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS