PGI Tampar Pengelola MBG, Mezisita; Stop Menjadikan Anak Menjadi Tumbal MBG
![]()
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Polemik keamanan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh tata kelola program tersebut menyusul laporan korban keracunan yang disebut telah mencapai puluhan ribu anak.
Teguran itu disampaikan Kepala Biro Perempuan PGI, Pendeta Mezisita Herlina, dalam aksi “Doa Tolak Bala Gugat Racun Negara” bersama koalisi masyarakat sipil MBG Watch di depan gedung Badan Gizi Nasional (BGN), Jumat (11/9/2026).
Mezisita meminta pemerintah tidak mengabaikan keselamatan anak dalam pelaksanaan program MBG. Ia juga menolak adanya kecenderungan menyalahkan anak ketika terjadi persoalan dalam pelaksanaan program.
“Stop menjadikan anak sebagai tumbal untuk mega proyek MBG! Stop menyalahkan anak atas kesalahan orang dewasa dan dengarkan hati nurani sekarang juga,” tegas Mezisita.
Menurutnya, pemerintah perlu membongkar dan membenahi tata kelola MBG secara menyeluruh. Ia juga meminta kebijakan dan anggaran pemerintah dikembalikan pada kebutuhan prioritas masyarakat, terutama di tengah berbagai persoalan yang muncul.
Mezisita menekankan bahwa kekuasaan dan kebijakan publik semestinya dijalankan dengan mengedepankan kebenaran, keadilan, kebaikan, serta empati terhadap masyarakat.
Lakukan Evaluasi Serius
Ia menilai laporan korban dalam jumlah besar seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi serius terhadap pelaksanaan proyek.
“Ketika puluhan ribu anak menjadi korban dari kebijakan yang dipaksakan, negara tak boleh lagi bergeming,” ujarnya.
PGI pun mendesak pemerintah segera memperbaiki sistem pelaksanaan MBG agar keselamatan dan kepentingan anak benar-benar menjadi prioritas.
Kepala Biro Perempuan PGI, Pendeta Mezisita Herlina menyebut sekitar 50.000 orang terdampak hingga September 2026. Pendeta Mezisita meminta pemerintah memperkuat perlindungan anak, membenahi tata kelola, serta mengevaluasi program sesuai kebutuhan.
Ia juga menyerukan agar anak tidak dijadikan “tumbal” proyek dan tidak disalahkan atas kesalahan orang dewasa. (sabar)


