Dulu Memuji Pakar, Sekarang Menghina Pakar Sebagai Orang Goblok, Tere Liye; Prabowo Ini Ada Masalah Apa Sih…?
![]()
JAKARTA , (tubasmedia.com) – Baru-baru ini, unggahan berantai dan status di media sosial yang dipopulerkan oleh novelis ternama Tere Liye menyoroti perbedaan kontras antara gaya komunikasi Prabowo Subianto saat menjadi oposisi dengan ketika menduduki tampuk kekuasaan eksekutif.
Tere Liye menyentil perubahan sikap tersebut melalui sindiran tajam mengenai bagaimana akademisi dan pakar diperlakukan dalam panggung politik nasional.
“Dulu memuji ahli-ahli, pakar-pakar. Hari ini menghina ahli-ahli, pakar-pakar. Seriusan. Prabowo ini ada masalah apa sih?” tanya Tere Liye, dikutip dari akun media sosialnya, Sabtu (19/9/2026).
Sanjungan Kepada Pakar di Ballroom Grand Sahid Jaya (2018)
Kembali ke era jelang Pemilu Presiden 2019, tepatnya pada Sabtu, 1 September 2018, Prabowo Subianto menggelar pemaparan pandangan politik dan ekonominya yang bertajuk Paradoks Indonesia di Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Saat itu, posisi politiknya berhadapan langsung dengan pemerintahan petahana, Jokowi. Dalam pidatonya yang disiarkan ke publik, Prabowo secara eksplisit merujuk pada pemikiran para ahli, pakar ekonomi dan pengamat independen.
Pada masa itu, narasi yang dibangun menekankan pentingnya mendengarkan masukan intelektual. Prabowo mengutip riset serta pandangan para ahli untuk memperkuat kritiknya terhadap kondisi ekonomi nasional, peningkatan utang luar negeri dan isu ketimpangan.
Argumen ilmiah dari akademisi kerap dijadikan benteng legalitas dalam mengkritik kebijakan penguasa. Kehadiran pakar dipandang sebagai fondasi penting untuk membongkar data yang dinilai keliru atau ditutupi oleh pemerintah kala itu.
Pernyataan Kontroversial di Perayaan HUT PAN (2026)
Perbedaan drastis tampak delapan tahun kemudian. Saat berbicara dalam perayaan HUT Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Prabowo Subianto melontarkan sindiran keras kepada para pakar dan pengamat yang kerap mengkritik program-program pemerintahannya.
Dalam pidato tersebut, Prabowo menyindir para cendekiawan yang dianggap hanya pandai berteori tanpa memahami realitas pelaksanaan di lapangan.
Kutipan pernyataannya yang mendadak tular berbunyi: “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok”.
Presiden Prabowo menuding sebagian pakar telah melontarkan kritik yang menjurus pada fitnah serta tidak menjunjung tinggi kejujuran intelektual (intellectual honesty).
Respon Publik dan Catatan Tere Liye
Sorotan media sosial, termasuk ulasan dari Tere Liye, menggarisbawahi ironi dari dua momen yang berjarak waktu ini.
Ketika berada di luar pemerintahan, analisis dan kajian kritis para pakar dirangkul serta dijadikan bahan amunisi politik untuk menguji penguasa.
Namun, ketika berada di dalam roda pemerintahan, kritik berlandaskan ilmu ilmiah dan data justru kerap diartikan sebagai cemoohan atau serangan politik.
Pernyataan “saking pintarnya jadi goblok” tersebut memicu gelombang tanggapan dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan mengingatkan pentingnya peran akademisi dalam menjaga objektivitas pembangunan.
Kritik dari pakar sejatinya dibutuhkan agar kebijakan publik tetap memiliki sandaran data ilmiah, bukan sekadar kompromi politik.
Prabowo Beri Contoh Jelek
Sebelumnya diberitakan, Ahmad Junaidi, seorang dosen di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku heran dengan pernyataan Prabowo yang dinilai sangat kasar terhadap para pakar. Dia mengatakan selama ini pendidik mengajarkan komunikasi yang baik.
Namun Prabowo sebagai presiden malah memberi contoh yang kurang baik. Disampaikan di publik dan disiarkan televisi nasional pula.
“Kami di sekolah berusaha mengajarkan komunikasi yang baik. Sayangnya bapak jadi contoh yang kurang baik bagi jutaan siswa Indonesia,” kata Junaidi dikutip dari unggahannya di Instagram, Sabtu (19/9/2026).
Prabowo Gagal Jadi Teladan
Dia meminta presiden dan pemimpin lainnya hati-hati dalam mengkomunikasikan pikirannya di depan umum. Junaidi mengaku paham ada yang tak disenangi Prabowo dari pernyataan pakar selama ini.
Namun menyebut goblok di ruang publik, menurutnya tidak etis.
“Akan tetapi, isi dan etika penyampaian Bapak merespons pendapat pakar (yang sebenarnya mengambil risiko ketika mengkritik Bapak) sangat tidak etis. Jutaan siswa melihat apa yang Bapak lakukan dan katakan,” ucapnya. Sebagai orang nomor satu di Indonesia, Prabowo dianggap gagal jadi teladan.
“Bapak gagal menjadi teladan bagaimana menghargai masyarakat yang berusaha memperbaiki negaranya. Gagal menjadi teladan komunikasi bagi jutaan siswa Indonesia,” ujarnya. (sabar)


