Peperangan Masih Terjadi di Beberapa Belahan Dunia

Loading

download.jpg2

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERJALANAN panjang dalam kehidupan ini pada dasarnya hanya diwarnai dua kondisi yang selalu menyertai yakni ekspektasi dan kecemasan. Semua pemimpin dan warga dunia hampir dapat dipastikan  selalu berhadapan dengan situasi tersebut.

Perdamaian abadi adalah ekspektasi/harapan besar kita semua tanpa kecuali. Namun disaat yang sama, kecemasan senantiasa datang menghantui kita karena dunia yang damai secara abadi tidak pernah ada.

Buktinya peperangan masih terjadi di beberapa belahan dunia. Begitu pula invasi dan infiltrasi militer tetap saja berlangsung karena perebutan pengaruh, sehingga kita menghadapi kecemasan tak berkesudahan.

Damai itu indah, adalah hanya sebuah ungkapan karena faktanya dunia ini tidak pernah berdamai secara abadi. Fenomena dan fakta lain tentang ekspektasi dan kecemasan kalau mau dijembreng lagi, tentu banyak bisa diungkap dan disampaikan.

Ekspektasi sebagai bentuk ekspresi nalar dan kejiwaan yang menaruh harapan besar agar dalam kehidupan ini menjadi lebih baik, adalah normatif dan sebagai kebutuhan yang bersifat universal. Pun demikian, ketika kondisi yang lebih baik ternyata tak kunjung datang, maka yang muncul pasti kecemasan.

Tapi jangan cemas ketika kondisi yang berbeda secara diametral itu, selalu bersemi dalam pikiran dan perasaan kita. Pertanyaannya apakah bisa dihapuskan keduanya. Jawabannya tidak. Pasalnya bila ekspektasi dan kecemasan itu hilang dari jiwa raga kita, berarti kita bukan manusia yang normal.

Bahkan bisa dianggap melawan kodrat karena ekspektasi adalah sebuah doa. Sedangkan kecemasan adalah suara hati yang perlu diekspresikan secara pisik, apakah kepada Tuhannya atau kepada para pemimpinnya.

Ungkapan kecemasan ini, pasti akan berubah menjadi ekspektasi/harapan besar agar kondisi buruk dapat berubah menjadi baik  dan lebih baik lagi. Singkat kata, kecemasan berarti harus dikenali dan harus dikendalikan agar bisa landing menjadi ekspektasi/harapan.

Untuk mengatasi kecemasan, tugas dan tanggungjawab para pemimpin adalah menjawab ekspektasi publik melalui berbagai tindakan yang tepat agar kecemasan publik menjadi berkurang, sehingga tidak bertumpuk-tumpuk karena gagal diberikan solusi oleh para pemimpin.

Pandangan imajiner ini, diharapkan dapat menjadi “pembekalan” kepada para pemimpin dan para calon pemimpin dimanapun berada. Ini tugas paling berat yang harus dipikul. Contoh, saat ini DKI akan melaksanakan Pilkada tahun 2017 serentak bersama daerah lain. Sebagai warga DKI, tentu menaruh harapan besar agar yang terpilih menjadi gubernur dapat menjawab harapan publik dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun juga diharapkan dapat menjawab kecemasan masyarakat atas lingkungannya dimana mereka tinggal, misal cemas karena khawatir digusur dan sebagainya. Karena itu, pemimpin harus bisa bersikap adil, tidak tebang pilih dalam memberi pelayanan dan bertindak arif dan bijaksana karena mengelola ekspektasi dan kecemasan adalah tugas yang amat berat dipikul oleh siapa pun yang menjadi pemimpin. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi

CATEGORIES
TAGS