Nelayan Tradisional Rembang Panen Ubur-ubur

Loading

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

REMBANG, (Tubas) – Ribuan nelayan tradisional Rembang, Jawa Tengah, tiga bulan ini sulit menangkap ikan teri, bahkan memburu sampai perairan Cirebon, Jawa Barat. Tapi dua minggu ini dapat berkah atas munculnya ubur-ubur. Seorang nelayan bisa meraih hasil Rp 300.000 dari ubur-ubur sehari.

Humas Pemkab Rembang mengatakan, ubur-ubur biasa muncul bulan November dan menyusut menjelang Desember. Hewan laut yang mengeluarkan getah membuat kulit gatal ini, hidup berkoloni di atas permukaan air 3 Km dari garis pantai. Mudah ditangkap oleh nelayan tradisional perairan dangkal.

Jumlah nelayan dan pandega setempat sekitar 36.000 orang, sepertiganya nelayan tradisional. Dengan perahu Cukrik (lima ABK), mereka melaut tak lebih 5 km dari garis pantai. Dari panen ubur-ubur ini, membuat penghasilan mereka lumayan besar.

Sekali melaut menjaring ubur-ubur, hasilnya Rp 150.000/nelayan. Padahal, sehari bisa dua-tiga kali melaut. Berarti seorang nelayan sehari dapat menghimpun duit Rp 300.000 – Rp 450.000. Karena hasil menggiurkan itu, nelayan kini tak memburu ikan teri.

Total tangkapan ubur-ubur sehari sekitar 2-5 ton. Harga jual Rp 300/kg (ukuran kecil) atau Rp 600/kg (besar). Para pengepul ubur-ubur dapat menjualnya kepada eksportir di Jakarta, sekitar 2-3 kontainer dalam sepekan. Eksportir melemparnya ke Jepang/Korea yang mengolah ubur-ubur menjadi bahan plastik dan kosmetika. (amary)

CATEGORIES
TAGS