Etika, sebagai Inti Kehidupan

Loading

Oleh : Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

BANGSA ini telah merdeka selama 66 tahun. Sepanjang perjalanannya, banyak sudah peristiwa politik, sosial, dan ekonomi terjadi, yang nyaris memporakporandakan kehidupan manusia Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bangsa ini telah banyak mengalami cobaan hidup dalam bentuk berbagai krisis. Tapi, faktanya negeri ini tetap ada seperti yang kita lihat sendiri.

Menjadi bangsa yang bermartabat dan berperadaban berarti secara geopolitik, geoekonomi, dan geokultural, bangsa ini memiliki keunggulan yang nyata dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Secara material dan spiritual bangsa ini harus kuat dan kekuatannya itu tidak menyebabkan bangsa ini menjadi sombong, sepertinya yang paling hebat sendiri di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Masa depan dunia akan bergeser dari barat ke timur. Pusat kekuatan ekonomi yang selama ini dikuasai AS dan sekutunya Eropa Barat, kini mulai bergeser ke Asia, China, India dan diproyeksikan akan dialami oleh Indonesia.

Faktor etika termasuk etika agama banyak memberikan pengaruh dalam kebangkitan dan kemajuan yang dicapai oleh bangsa Eropa dan bangsa China sebagai contoh. Etika yang bersumber dari agama apa pun pada dasarnya memberikan kontribusi yang besar dalam proses transformasi pembangunan suatu bangsa, karena memberikan pembekalan yang luar biasa dalam hal pembentukan karakter, sikap hidup, etos kerja, dan semangat untuk terus belajar sepanjang masa.

Etika yang tata nilainya bersumber dari agama maupun yang bersumber dari budaya masyarakat harus menginternalisasi dalam sanubari setiap insan pembangunan, karena pada akhirnya etika tersebut akan menjadi sikap dan tujuan hidup seseorang. Karena itu, dia dianggap sebagai intipati kehidupan manusia dan sekaligus tujuan hidupnya.

Bangsa China, Eropa, dan bahkan Amerika sekalipun bisa menjadi digdaya antara lain karena ajaran agama yang mampu menjadi etos bagi kehidupan bangsanya. Jadi, tidaklah tepat ketika semua membicarakan tentang pentingnya mengakomodasi nilai-nali etika dalam proses pembangunan, tapi pada saat yang sama sebagian masyarakat berpandangan bahwa agama jangan dicampuradukkan dengan persoalan politik, ekonomi, dan masalah kehidupan pada umumnya.

Konsep membangun manusia seutuhnya, pada dirinya mengandung makna bahwa, manusia sebagai subjek dan objek pembangunan dalam cara berpikir dan bertindaknya harus dapat mengakomodasi aspek etika dan spiritualitas yang harus menyatu secara utuh dan padu dalam kehidupan, tanpa harus menafikan hal-hal yang bernilai material.

Menjadi Paripurna

Kemartabatan dan keberadaban sebuah bangsa akan menjadi paripurna bila nilai etika dan spiritualitas digunakan sebagai pengantar dan sekaligus sebagai penguat terjadinya proses transformasi kemanusiaan yang kemudian melahirkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga bangsa itu secara geopolitik, geoekonomi dan geobudaya dapat menjadi pusat gravitasi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, yang mengutamakan kesejahteraan dan kemakmuran bersama serta ramah terhadap alam dan lingkungannya.

Manusia sebagai subjek dan objek pembangunan selalu membutuhkan titik keseimbangan dalam setiap langkahnya untuk melakukan perubahan. Titik keseimbangan itu adalah berpadunya antara nilai etika dan spiritual dengan nilai-nilai yang bersifat material. Tanpa ada keseimbangan yang terkelola dengan efektif, maka pasti akan terjadi ketidakseimbangan yang kalau bandulnya mengarah kuat kepada penguasaan nilai-nilai yang bersifat kebendaan, maka sama saja mendorong proses transformasi kemanusiaan yang menjurus kepada terbentuknya manusia sebagai economic animal dan ini harus dihindari karena bisa menjurus ke arah terjadinya kanibalisme ekonomi.

Lain halnya kalau proses transformasi kemanusiaan mengakomodasi nilai etika dan spiritualitas yang menginternalisasi ke dalam sanubarinya maka akan mendatangkan nilai kemartabatan dan keberadaban dalam sistem ekonomi yang dikembangkan. Oleh sebab itu, dalam perancangan konsep pembangunan di segala bidang, ke depannya harus selalu mempertimbangkan faktor etika dan spiritualitas, karena keduanya dianggap sebagai intipatinya kehidupan manusia dan sekaligus tujuan hidupnya.

Ajaran agama pasti baik, Pancasila sebagai dasar Negara juga baik, asal jangan digunakan sebatas formalitas dan simbolik saja, tetapi harus bisa menjelma menjadi sebuah etos. Yakinlah bangsa ini sebentar lagi akan menjadi bangsa yang besar dan digdaya secara politik, secara ekonomi, dan secara budaya. Digdaya secara politik, karena kita negara yang demokratis. Kuat secara ekonomi karena kita mempunyai sumber daya (alam dan manusia) yang melimpah. Digdaya di budaya karena bangsa ini mahakaya memiliki berbagai ragam budaya yang tersebar dari Sabang hingga Papua.***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS