A-CFTA akan Pengaruhi Kondisi UMKM

Loading

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

TASIKMALAYA, (TubasMedia.Com) – Memasuki tahun 2012, perdagangan bebas di era globalisasi, sudah dapat dipastikan berdampak terhadap perkembangan perekonomi bangsa Indonesia. Khususnya perkembangan ekonomi di daerah Jawa Barat, terutama di Tasikmalaya. Apalagi saat ini, telah diberlakukannya ASEAN-China Free Trade Agreement (A-CFTA).

‘’Bila A-CFTA tak diantisipasi sejak dini, dikhawatirkan akan mempengaruhi perekonomian dan dunia para pelaku usaha, tanpa terkecuali, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), ‘’ kata H. Suryana SH, Notaris Senior dan pemerhati ekonomi Tasikmalaya kepada TubasMedia.Com, baru-baru ini.

Walaupun ketahanan Koperasi dan UMKM bebas dari pengaruh globalisasi itu sudah terbukti dan teruji ketika krisis moneter tempo dulu, namun diragukan A-CFTA akan berdampak negatif terhadap perjalanan UMKM.

Pasalnya, UMKM itu sebagai roda perekonomian kecil yang mampu menopang lapangan kerja. Dalam hal ini, pelaku pasar di sektor usaha kecil dinilai memahami betul risiko dan dampak dari perdagangan bebas ini. Menurut Suryana, barang-barang produk impor dari China, seperti pakaian jadi, sepatu, sandal dan pernak pernik kerajinan, berupa mainan anak-anak terbuat dari plastik, kini sudah membanjiri pasar dalam negeri.

Perdagangan bebas di era globalisasi, dipastikan ada efek negatif dan positifnya, bagi perkembangan ekonomi bangsa Indonesia, khususnya daerah Jawa Barat. ”Jika tidak diantisipasi sejak dini, dikhawatirkan mempengaruhi perekonomian dan dunia para pelaku usaha, tak terkecuali Koperasi dan UMKM,” ujarnya.

Sementara itu, Riduan Zippo (40) pedagang asal Bandung kepada TubasMedia.Com mengatakan, beragam dampak setelah dibukanya perdagangan bebas, misalnya masuk barang dari China. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi produk dalam negeri. Indikasinya permintaan pasar produk impor dari China, berupa tekstil maupun main-mainan anak terbuat dari plastik, sangat menjamur di Jawa Barat.

Saat ini, masyarakat cendrung memilih dan membeli barang produk impor dari China, ketimbang membeli barang produk lokal, karena faktor harga. “Misalnya, harga sandal produk China sekitar Rp.50.000 bisa dibayar dengan 5 kali cicilan, sedangkan sandal produk lokal harganya Rp. 50.000, tapi harus kontan dengan kwalitas sama, otomatis mereka memilih membeli sandal produk China,” kata Riduan.

Diakui, barang produksi lokal, selain sulit mendapatkan bahan baku, biaya produksi sangat tinggi, termasuk tingginya suku bunga kredit perbankan. Ini menjadi beban modal usaha yang masih besar dan keuntungannya semakin kecil. “Bayangkan saja dari satu kodi barang yang dijual, keuntungannya hanya berkisar Rp. 5.000 s/d 10.000/kodi,” katanya. (dadang)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS