Reshuffle Kabinet ?

Loading

Oleh: Sabar Hutasoit

251214-bb1

SEJAK dilantik tanggal 27 Oktober 2014 atau hampir 100 hari para menteri sebagai pembantu Presiden Jokowi bekerja, saat ini isu yang muncul adalah kapan reshuffle kabinet. Tidak terlalu jelas apa pasal sehingga issu reshuffle kabinet mulai mengudara.

Tapi yang pasti desakan reshuffle kepada Presiden Jokowidodo adalah ketidak puasan kepada kinerja sejumlah menteri yang belum tampak dan belum sesuai dengan janji-janji yang dikumandangkan saat kampanye.

Tanpa menyebut nama menterinya, menjelang 100 hari kerja, sebagian besar dari 34 menteri yang dilantik 27 Oktober 2014 itu tampaknya belum atau tidak pernah berbuat apa-apa yang berdayaguna bagi masyarakat. Terkesan hanya tebar pesona.

Malah ada diantara menteri tersebut, yakni Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soewarno yang statemennya menjual gedung BUMN, menimbulkan polemik yang sangat ramai sebab alasan menjual gedung tersebut hanya dengan alasan efisiensi sebab anggotanya hanya 250 orang.

Kalau hanya dengan alasan efisiensi, kenapa harus dijual ? Disewakan saja lantai per lantai kepada masyarakat pasti laku dan menjadi salah satu sumber pemasukan uang ke pundi-pundi negara.

Masyarakat menjadi gamang karena menteri kabinet kerja-nya Presiden Jokowi terlihat hanya melihat gampangnya saja tanpa mau berfikir lebih dalam lagi. Kalau untuk menjual gedung, tidak perlu diangkat menjadi menteri. Serahkan saja kepada pialang pasti cepat laku dengan harga tinggi pula.

Adala lagi menteri yakni Menteri Perindustrian Saleh Husin yang mengatakan kalau pihaknya tidak punya program kerja. ‘’Saya tidak punya program sebab kami hanya menjalankan program kerja yang sudah digariskan presiden,’’ begitu kata menterki yang satu ini saat ditanya wartawan apa tagline Kementerian Perindustrian ke depan.

Tersentak para wartawan yang mendengar pengakuan Saleh Husin bahwa pihaknya tidak punya program dan hanya menjalankan program yang sudah ditentukan Presiden Joko Widodo. Saat ditanya lagi apa strategi kemenetrian yang dipimpinnya mengamankan produksi mobil murah pada era Pasar Tunggal AZSEAN akhir 2015 ini, menteri hanya mengatakan ‘’kita akan dorong terus”.

Secara umum, jika kita melihat sepak terjang ke-34 pembantu presiden, ritme kerja mereka belum merata. Ada yang memiliki kecepatan tinggi. Misalnya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi dinilai sebagai menteri yang menjanjikan dalam bekerja, tapai apakah gayanya yang penuh gebrakan itu akan tetap bertahan selama 5 tahun dia mengemban tugas di kementerian yang dipimpinnya ? Kita lihat saja nanti.

Tapia da juga menteri yang nyaris tidak terdengar apa saja gagasannya. Misalnya, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Tekhnologi M Nasir yang hingga bulan kedua menjabat sebagai menteri belum terdengar rencana aksinya terkait masa depan perguruan tinggi dan riset selama lima tahun ke depan.

Demikian juga Menko EKUIN, Sofyan Jalil. Daya tarung rupiah kita semakin merosot, sepertinya Menko yang satu ini tak bergeming tak pernah terdengar suaranya padahal kurs dolar yang terus menguat itu adalah tugas dan tanggungjawabnya selaku Menko Perekonomian.***

CATEGORIES
TAGS