Miliki Budi Pekerti Agar Menjadi Kusuma Bangsa
![]()
Oleh : T. Dewi

ilustrasi
PERNAH penulis mendengar seorang kawan menyampaikan bahwa”Warga Negara Indonesia yang memiliki jiwa luhur akan mengharumkan Bangsa dan Negaranya, menjadi Kusuma Bangsa”. Kalimat ini mengandung sebuah pengharapan. Oleh karena warga negara adalah penduduk sebuah negara, dan mereka adalah Sumber Daya Manusia dari negara yang akan menentukan seperti apa kelak negara itu dimasa yang akan datang.
Jiwa luhur tidaklah mudah dimiliki seseorang, tanpa pendidikan budi pekerti, yang didapatnya sejak dari dalam lingkungan keluarga, kemudian di sekolah. Ketika seseorang berada di dalam lingkungan masyarakat baru akan terlihat, yaitu ketika ia mulai berkarya di masyarakat. Dalam dunia berkarya terlihatlah, apakah ia memiliki budi pekerti atau tidak.
Apabila seseorang sejak masa kanak-kanak, remaja sampai pemuda (berkesinambungan) telah dibekali budi pekerti atau sifat terpuji, maka ketika dewasa, saat ia melaksanakan tugasnya sesuai dengan kemampuan intelektualnya, budi pekerti yang dimilikinya akan melandasi etos kerjanya di masyarakat. Seseorang yang memiliki etos kerja yang baik, penuh percaya diri, pribadi yang berwawasan luas, penuh pengabdian untuk masyarakatnya, dialah yang akan menjadi kusuma bangsa.
Telah banyak para ahli yang membahas bagaimana membangun suatu masyarakat yang baik, akan tetapi teori-teori itu hanya akan menjadi ilmu yang tertulis saja, apabila tidak ada tindakan yang berlandaskan pendidikan budi pekerti yang berarti kesusilaan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan budi pekerti, harus dimulai dari rumah sejak seorang anak dilahirkan. Ayah-ibu adalah pendidik pertama bagi semua anak. Apabila ayah dan ibu sejak dini telah memberikan contoh moral yang baik bagi anak, berarti pendidikan budi pekerti telah ditanamkan pada anak, dan akan dibawanya sebagai dasar sifatnya di masyarakat. Anak yang memiliki dasar sifat yang baik sejak lahir, tidak mudah terpengaruh pada hal-hal yang negatif ketika ia berada di luar rumah.
Setiap orang tua pasti mengharapkan anak-anaknya kelak menjadi kusuma bangsa, akan tetapi tanpa disadari budi pekerti yang baik tidak pernah ditanamkan sejak dini kepada anak. Bagaimana anak dapat menjadi kusuma bangsa yang tangguh dalam arti tangguh lahir maupun batin. Ilmu pengetahuan dapat mudah dicari, harta, pangkat, dan derajat dapat dikejar selama ada semangat dan biaya untuk mencapainya.
Tetapi pendidikan budi pekerti, membutuhkan teladan atau contoh yang berkesinambungan dalam kehidupan manusia. Sebab kata budi pekerti, dalam kehidupan modern masa kini hanya menjadi slogan. Seperti sifat jujur, yang merupakan bagian dari budi pekerti, di mana pun dicari orang yang jujur.
Dalam iklan di surat kabar, setiap hari sejak dulu sampai sekarang banyak yang mencantumkan: “Dicari tenaga yang jujur dan berdedikasi tinggi”, tetapi jujur seperti apa, apakah pengusahanya yang mencari tenaga kerja juga sudah jujur?
Begitu sulitkah mendapatkan budi pekerti? Apabila kita sadar bahwa sumber daya manusia yang tangguh adalah mereka yang mempunyai budi pekerti, mengapa usaha membangun budi pekerti semua anak bangsa tidak digarap bersama dalam masyarakat.
Oleh karena, apabila yang berusaha hanya sebagian kelompok orang, dan yang lain tidak, maka sulit membangun budi pekerti sebagai modal menjadi kusuma bangsa. Sedang sebuah negara akan sukar berkembang maju tanpa memiliki bunga bangsa atau anak bangsa yang tangguh lahir maupun batin.
Sebuah kenyataan bahwa kini dapat dirasakan begitu besar tantangan membangun budi pekerti. Oleh karena pada dasarnya manusia memang lebih mudah mencontoh hal-hal yang negatif daripada yang positif. Apalagi dunia informasi saat ini sudah bersifat global. Segala informasi yang baik dan buruk begitu mudah didapatkan seseorang. Ibaratnya tinggal “klik” apa pun yang ingin diketahui atau dicontoh, dalam hitungan detik dapat diperoleh. Akan tetapi sekali lagi lebih mudah mencari informasi yang negatif daripada yang baik.
Bahkan ada yang mengatakan, “Kalau tidak mengikuti arus, yaitu menyuguhkan berita yang panas (memancing emosi) tidak dilirik orang atau tidak laku”. Contoh: seseorang berkata dengan menggunakan bahasa yang salah atau diplesetkan, atau mengolok-olok orang lain di muka umum, maka dalam sekejap hal yang salah malah menjadi “trend”. Hal-hal yang negatif ini akan mudah diserap di masyarakat yang tidak memiliki dasar budi pekerti sejak bayi di rumahnya oleh orang tuanya.
Oleh karena itu, apabila kita mencita-citakan memiliki negara yang adil, makmur dan sentosa, perlu berusaha bersama-sama membangun budi pekerti sebagai dasar moral, agar anak bangsa ini memiliki jiwa luhur, dan tumbuhlah para kusuma bangsa yang akan menjadi tiang negara, sepeti yang kita cita-citakan. ***
