Buruk Muka Cermin Dibelah

Loading

Oleh: Edi Siswojo

Ilustrasi

Ilustrasi

MENCARI lima orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang kredibel, sama sulitnya dengan mencari 11 pemain sepak bola di antara 240 juta penduduk Indonesia. Bisa jadi karena kesulitan itu korupsi di Indonesia sulit diberantas dan karena itu pula sepak bola Indonesia tidak pernah bisa menjadi juara dunia. Aneh bin ajaib!

Sama anehnya dengan Ketua DPR Marzuki Alie yang menyatakan andaikata Pansel (Panitia Seleksi) pimpinan KPK tidak bisa menemukan orang yang kredibel bubarkan saja KPK. Tidak hanya itu. Marzuki Alie juga melontarkan gagasan baru koruptor dimaafkan dan uang hasil korupsi dikembalikan kepada negara.

Pernyataan Ketua DPR tersebut mengundang kontroversi. Maklum, orang Indonesia banyak ngomong tapi sedikit bertindak. Pengamat jadi profesi yang laris manis. Kehadiran pengamat menjadi penting, sama pentingnya dengan kehadiran bumbu penyedap yang membuat makanan menjadi enak disantap.

Mendadak sontak pernyataan Marzuki Alie yang sudah dibumbui itu menjadi santapan masyarakat. Menu perbicangan dan perdebatan di grassroots maupun elite, di kampung dan di gedung bertingkat. Ada yang setuju, ada yang menolak. Ada yang menyerang, ada yang membela. Ada juga yang netral. Negara demokratis memberi kesempatan yang sama kepada setiap warga negara–termasuk saya–menyatakan pendapat.

Korupsi sebagai perbuatan yang menguntungkan–memperkaya–diri sendiri dan merugikan orang banyak merupakan perbuatan yang melanggar hukum. Setuju, korupsi diberantas dan pelakunya dipidana berat. Korupsi dan koruptor tidak bisa diampuni apalagi dimaafkan. Pepatah lama mengingatkan, “Jangan karena buruk muka cermin dibelah”.

Memang, di Indonesia sudah banyak lembaga negara yang menangani masalah korupsi, tapi korupsi tidak pernah habis dan malah bertambah banyak dan menyebar di mana-mana. Kenyataan menunjukkan penegak hukum melanggar hukum, pemberantas korupsi melakukan korupsi. Bisa jadi itu karena masyarakat sudah tidak menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kejujuran, tanggung jawab dan keikhlasan.

Korupsi tidak terjadi dengan sendirinya, tindakan itu sebagai hasil perkawinan individu dan sosial. Kontroversi pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab masyarakat. Sebagai sebuah gagasan dan pendapat, pernyataan Ketua DPR itu harus dihormati secara demokratis. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS