Bank Dalam dan Luar Negeri Pemberi Pinjaman Kepada Perusahaan Perusak Lingkungan, Bank Mandiri Terbesar di Dalam Negeri
![]()
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara (Sumut) mengungkap peran sejumlah lembaga perbankan dalam pembiayaan perusahaan yang disebut bergerak di sektor berisiko terhadap lingkungan di Sumatera.
Dalam data yang disampaikan Walhi Sumut, Bank Mandiri tercatat sebagai bank dalam negeri dengan pembiayaan terbesar, disusul Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Hal tersebut diungkapkan Walhi Sumut melalui unggahan di akun Instagram @walhisumut. Mereka menjelaskan bahwa pada akhir 2025, Sumatera mengalami bencana ekologis yang cukup besar.
“Longsoran tanah dan banjir bandang menghantam Sumatra Utara, Sumatra Barat sampai Aceh. Hingga saat ini, sebagian besar penyintas belum sepenuhnya pulih,” tulis Walhi Sumut, dikutip Selasa (25/8/2026).
Di sisi lain, Walhi Sumut menyoroti aliran pembiayaan kepada perusahaan-perusahaan yang disebut berisiko terhadap lingkungan. Menurut mereka, pembiayaan tersebut berlangsung dalam skala besar.
Mengutip data Forests & Finance, Walhi Sumut menyebut sepanjang periode 2014–2025, total pembiayaan yang terdeteksi mengalir kepada sejumlah perusahaan di sektor berisiko di Sumatera mencapai US$42,9 miliar.
“Jumlah ini terdiri dari pinjaman sebesar US$16,9 miliar dan pembiayaan penjaminan (underwriting) sebesar US$26,1 miliar. Mirisnya, aliran dana tetap terjadi di tengah meningkatnya risiko ekologis dan konflik sosial di wilayah operasi perusahaan,” paparnya.
Daftar 20 Bank Pemberi Pinjaman Terbesar
Walhi Sumut menyebut terdapat sejumlah bank dan lembaga keuangan yang tercatat memberikan pembiayaan. Berikut 20 pemberi pinjaman terbesar:
SDIC Finance (China) – US$5,338 miliar
Bank Mandiri (Indonesia) – US$3,752 miliar
CSC Financial (China) – US$2,417 miliar
CITIC (China) – US$1,756 miliar
Industrial and Commercial Bank of China (China) – US$1,725 miliar
SMBC Group (Jepang) – US$1,653 miliar
Bank Rakyat Indonesia (Indonesia) – US$1,649 miliar
Bank of China (China) – US$1,419 miliar
HSBC (Inggris) – US$1,236 miliar
China Development Bank (China) – US$1,215 miliar
Bank Negara Indonesia (Indonesia) – US$1,144 miliar
China Construction Bank (China) – US$1,085 miliar
Guotai Junan Securities/Guotai Haitong Securities (China) – US$1,045 miliar
GF Securities (China) – US$967 juta
DBS (Singapura) – US$932 juta
Agricultural Bank of China (China) – US$885 juta
China International Capital Corporation (China) – US$782 juta
Mizuho Financial (Jepang) – US$765 juta
China Merchants Bank (China) – US$754 juta
Mitsubishi UFJ Financial (Jepang) – US$747 juta
Bank Mandiri yang Terbesar di Dalam Negeri
Berdasarkan data tersebut, Bank Mandiri menjadi bank dalam negeri dengan nilai pembiayaan terbesar, disusul BRI dan BNI.
Rinciannya:
Bank Mandiri: US$3,752 miliar
Bank BRI: US$1,649 miliar
Bank BNI: US$1,144 miliar
Selain bank nasional, sejumlah lembaga keuangan internasional dari China, Jepang, Singapura, Inggris, hingga negara lainnya juga tercatat dalam daftar pemberi pembiayaan.
PLTA dan Tambang Emas Penerima Pembiayaan Terbesar
Berdasarkan kelompok perusahaan, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengelola PLTA Batang Toru, tercatat menerima pembiayaan terbesar dengan total US$23 miliar. Mayoritas pembiayaan tersebut disebut melalui skema penjaminan.
Selanjutnya, PT Agincourt Resources, pengelola tambang emas Martabe, tercatat menerima US$9,87 miliar, sedangkan PTPN III sebesar US$7,54 miliar.
“Koalisi Responsibank menekankan bahwa data ini baru mencerminkan sebagian kecil perusahaan yang dapat ditelusuri, mengingat masih terbatasnya keterbukaan data pembiayaan dan struktur korporasi di Indonesia,” jelas Walhi Sumut.
20 Kreditor Teratas PT Agincourt Resources
SMBC Group (Jepang) – US$1,128 miliar
HSBC (Inggris) – US$1,056 miliar
Mitsubishi UFJ Financial (Jepang) – US$642 juta
Bank of China (China) – US$588 juta
Mizuho Financial (Jepang) – US$574 juta
Citigroup (Amerika Serikat) – US$545 juta
Bank Mandiri (Indonesia) – US$542 juta
Bank Central Asia (Indonesia) – US$503 juta
Oversea-Chinese Banking Corporation (Singapura) – US$477 juta
DBS (Singapura) – US$428 juta
ANZ (Australia) – US$393 juta
United Overseas Bank (Singapura) – US$386 juta
Malayan Banking (Malaysia) – US$351 juta
CITIC (China) – US$306 juta
Industrial and Commercial Bank of China (China) – US$251 juta
Morgan Stanley (Amerika Serikat) – US$251 juta
CIMB Group (Malaysia) – US$227 juta
Bank Rakyat Indonesia (Indonesia) – US$195 juta
Bangkok Bank (Thailand) – US$135 juta
Bank Negara Indonesia (Indonesia) – US$122 juta
20 Kreditor Teratas PT North Sumatera Hydro Energy
SDIC Finance (China) – US$5,338 miliar
CSC Financial (China) – US$2,417 miliar
CITIC (China) – US$1,449 miliar
Industrial and Commercial Bank of China (China) – US$1,367 miliar
China Development Bank (China) – US$1,215 miliar
Guotai Haitong Securities (China) – US$1,045 miliar
China Construction Bank (China) – US$979 juta
GF Securities (China) – US$967 juta
Agricultural Bank of China (China) – US$885 juta
Bank of China (China) – US$831 juta
China International Capital Corporation (China) – US$782 juta
China Merchants Bank (China) – US$754 juta
Industrial Bank Company (China) – US$486 juta
China Everbright (China) – US$354 juta
Huatai Securities (China) – US$341 juta
Donghai Securities (China) – US$290 juta
Postal Savings Bank of China (China) – US$231 juta
First Capital Securities (China) – US$224 juta
China Eximbank (China) – US$213 juta
DBS (Singapura) – US$200 juta
Ekosistem Sumatera Tertekan
Walhi Sumut menyebut tekanan terhadap ekosistem juga tercermin dari sejumlah temuan di lapangan.
Mereka mencatat perubahan tutupan hutan seluas 10.795,31 hektare di lanskap Batang Toru yang diduga berkaitan dengan aktivitas tujuh perusahaan besar.
“Kerusakan tersebut diperkirakan telah menghilangkan lebih dari 5,4 juta pohon, termasuk di kawasan yang berfungsi sebagai penyangga hidrologis dan koridor satwa. Pembukaan lahan dalam skala besar ini dinilai melemahkan fungsi alamiah kawasan hulu dan memperbesar risiko banjir bandang serta longsor di wilayah hilir,” paparnya.
Menurut Walhi Sumut, industri keuangan memiliki peran strategis dalam pembiayaan aktivitas yang berpotensi menimbulkan dampak ekologis. Sebaliknya, pasar modal dan perbankan juga dinilai memiliki posisi penting untuk mendorong transisi dan memutus siklus kerusakan lingkungan.
“Tanpa audit perizinan yang menyeluruh, keterbukaan data pembiayaan, dan penegakan hukum yang tegas, risiko ekologis di Sumatera akan terus berulang dan berubah menjadi tragedi kemanusiaan,” terangnya.(sabar)

