Menghindari Benci

Loading

Oleh : Ajeng

Ilustrasi

Ilustrasi

“Benci aku!” Itulah penggal kalimat yang sering diucapkan oleh pelawak Tessy dahulu di masa jayanya dan itu membuat pendengarnya tertawa. Namun, apabila kata-kata itu keluar dari mulut seorang yang sedang kesal atau marah, maka ungkapan kejengkelan ini akan membuat orang itu jadi semakin gelap hati. Bahkan, terkadang dapat menimbulkan pertengkaran.

Seperti kita ketahui bahwa, benci, marah, kesal, dendam, sakit hati merupakan gejala atau tanda-tanda yang dimiliki seseorang apabila akan muncul pertengkaran. Sebenarnya semua ajaran tentang moral yang baik selalu menganjurkan untuk menghindari pertengkaran.

Seseorang akan gemar bertengkar apabila ia tidak memiliki kesadaran dan keyakinan kepada Tuhan dengan benar. Oleh karena apabila seseorang sungguh-sungguh sadar dan percaya bahwa sejatinya semua manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, maka sadar pula bahwa semua manusia bersaudara dan barang tentu akan saling mengasihi dan tidak suka pada pertengkaran.

Inilah salah satu kontrol bagi kita, apakah kita sungguh-sungguh telah memiliki kepercayaan yang benar kepada Tuhan. Sebab percaya pada Tuhan dengan kesungguhan berbeda dengan mengerti bahwa Tuhan ada. Ini adalah dua hal yang berbeda. Sebagai contoh, kita dapat mempercayai seseorang karena kita mengenalnya dengan baik dan dekat, akan tetapi tidak demikian apabila kita baru sekedar mengerti pada keberadaan seseorang dan belum mengenalnya dengan baik, maka kita tidak akan begitu saja percaya kepadanya.

Dengan demikian, agar kita percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka kita perlu mengenal Tuhan dengan baik, bahwa Tuhanlah asal mula kita, Ia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemaaf dan Maha Adil. Kepada-Nya kita akan kembali, ketika selesai tugas kita menjalan kehidupan dunia ini. Kasih Tuhan kepada hamba-Nya tidak pernah berhenti, tetapi manusia yang selalu berpaling dari-Nya, karena hanya cinta pada keadaan dunia yang fana ini.

Hal ini perlu kita sadari dan percayai, agar kita mengetahui bahwa Tuhan cinta kepada semua umat-Nya, dan kita pun harus mencintai-Nya sepenuh hati di dalam hati kita yang paling dalam. Cinta kasih kita kepada Tuhan kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengasihi setiap hamba-Nya yang lain, yang menjadi teman kita dalam kehidupan sehari-hari, dari yang paling dekat (suami, istri, anak, ibu, bapak, kakak, adik) sampai teman di luar lingkungan keluarga. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS