Jakarta Segera Nikmati Moda Transportasi Massal
![]()
Oleh: Anthon P.Sinaga

ilustrasi
KEMACETAN lalu lintas yang semakin menjadi-jadi di Ibu kota Jakarta, sudah sangat mengkhawatirkan warga masyarakat, karena tidak dapat lagi memprediksi waktu perjalanan untuk sampai ke tujuan, baik ke sekolah, bekerja, ataupun untuk tujuan kesibukan lainnya. Oleh karena itulah masyarakat sangat menanti-nanti terlaksananya megaproyek pembangunan sarana transportasi massal yang disebut-sebut sebagai proyek MRT (mass transit transportation), agar perjalanan semakin lancar dan kekhawatiran semakin berkurang.
Secara resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, hari Kamis (2/5) meluncurkan dimulainya megaproyek transportasi cepat massal tersebut di Bundaran Hotel Indonesia oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), bersama Direktur Utama PT MRT Domo Boestami, selaku pengelola megaproyek tersebut.
Sekalipun megaproyek MRT ini belum menjamin kelancaran lalu lintas secara keseluruhan, namun upaya seperti ini secara bertahap akan berdampak positif, setidaknya di satu wilayah tertentu dengan jalur yang direncanakan. Untuk tahap pertama ini diharapkan bisa mengurai kepadatan lalu lintas dari jalur selatan-pusat, yakni dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan ke arah Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Setelah itu bisa dilanjutkan lagi dari Bundaran HI ke arah Harmoni, sampai ke kota tua dan Kampung Bandan, Jakarta Barat.
Peluncuran memulai megaproyek ini ditandai dengan pengumuman pemenang lelang proyek MRT tersebut. Untuk itu PT MRT yang bertangung jawab dalam proyek ini dituntut untuk mengawasi pengerjaannya secara profesional dan tepat waktu. “Saya menunggu sampai batas masa sanggah Rabu (1/5) selesai. Sampai hari itu tidak ada pihak yang menyanggah. Sehingga, kontraktor pemenang lelang sudah bisa memulai pekerjaannya. Mereka mau memulai kapan saja, silakan. Besok pagi atau bulan depan, silakan. Namun, tahun 2017 proyek ini harus sudah selesai,” kata Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), hari Kamis (2/5).
Semula, proyek ini dilaporkan terancam akan molor waktu pengerjaannya, karena harus menunggu persetujuan dari pihak DPRD DKI Jakarta. Jokowi sempat menyayangkan keruwetan regulasi dan birokrasi yang harus ditempuh untuk melanjutkan megaproyek mengatasi kemacetan lalu lintas dan masalah banjir di DKI Jakarta, yaitu pembangunan monorel, transportasi cepat massal (MRT), terowongan multifungsi, dan tembok laut raksasa yang sebenarnya sudah ada dalam rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJPD) DKI tahun 2013-2017. Jokowi dengan ketus mengatakan, ”Proyek MRT harus ada persetujuan dewan lagi, monorel harus ada persetujuan dewan lagi, terowongan juga, tembok laut raksasa juga”. “Saya tidak tahu, tetapi itulah regulasinya,” katanya seperti kesal, setelah bersama Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama selesai bertemu dengan jajaran pimpinan DPRD DKI Jakarta, hari Senin (29/4).
Namun besoknya (Selasa,30/4), DPRD DKI melakukan rapat paripurna mengesahkan Peraturan Daerah tentang RPJPD DKI Jakarta 2013-2017 itu, dimana megaproyek MRT termasuk di dalamnya, sehingga semua megaproyek itu bisa dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tanpa perlu minta persetujuan lagi kepada DPRD DKI Jakarta. Tampaknya, kebijakan Jokowi-Basuki memang tidak selalu berjalan mulus. Walaupun salah satu pimpinan DPRD DKI Jakarta kemudian berkelit, bahwa mereka sebenarnya tidak meminta persetujuan lagi, tetapi meminta penjelasan lebih dalam, karena empat megaproyek itu menelan biaya yang sangat besar.
Pengerjaan Tahap Pertama
Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestomi belum memastikan kapan mulai pelaksanaan proyek MRT tersebut, karena setelah urusan surat-surat kontrak beres, kontraktor masih akan segera mengerjakan details engineering design (DED). Namun, ia mengatakan, pihaknya akan mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menjelaskan pengerjaan konstruksi MRT dibagi menjadi delapan paket. Yakni, tiga paket konstruksi bawah tanah, tiga paket konstruksi layang, dan dua paket pengadaan sistem dan kereta (rolling stock).
Enam paket sudah ditenderkan, yaitu tiga paket konstruksi bawah tanah dan tiga paket layang. Pemenang lelang tiga paket konstruksi bawah tanah jalur Lebak Bulus –Bundaran HI sepanjang 15,7 kilometer, adalah dua konsorsium gabungan perusahaan Jepang dan perusahaan BUMN. Yakni dua paket dikerjakan konsorsium Shimizu-Obayashi-Wijaya Karya-Jaya Konstruksi, dan satu paket oleh konsorsium Sumitomo Mitsui-Hutama Karya. Total paket tersebut, senilai Rp3,6 triliun. Sedangkan pemenang lelang tiga paket konstruksi layang, masih dirahasiakan. Mungkin, karena masih mendapat perlawanan dari masyarakat.
Khusus pelelangan dua paket pengadaan sistem dan kereta (rolling stock) akan dilakukan kemudian. Setelah peluncuran dimulainya megaproyek MRT ini, Direksi PT MRT dituntut segera menyiapkan rencana berikutnya, terkait dengan opersional MRT, keputusan besaran tarif dan sosialisasi kepada masyarakat. Semoga megaproyek moda transportasi berbasis rel ini segera terwujud, sehingga upaya Jokowi-Basuki mengatasi kemacetan lalu lintas darat di Ibukota Jakarta, semakin nyata. ***
