Buntut Tarif Trump, Tak Gampang Bangun Pabrik di AS

Loading

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) membeberkan alasan sulitnya pengusaha Indonesia membangun pabrik di Amerika Serikat (AS) sebagai buntut pengenaan tarif impor dari Presiden AS, Donald Trump.

Ekonom Indef Tauhid Ahmad mengatakan, pembangunan pabrik di AS harus dibarengi dengan labor intensive alias produksi yang membutuhkan banyak tenaga kerja, di mana tenaga kerja tersebut akan diserap di negara tersebut.

Namun, rasanya berat lantaran proporsi biaya tenaga kerja sangat tinggi. Tak hanya itu, pengusaha juga membutuhkan investasi yang besar untuk bisa berekspansi ke pasar global, apalagi jika pabrik yang dibangun merupakan industri padat karya.

“Menurut saya, kalau selama katakanlah labor intensive, rasanya sulit ya, karena kan salah satunya upah. Jadi, kalau pindah ke Amerika, walaupun ada potongan, katakanlah dari kenaikan tarif, berat juga,” ujar Tauhid, Jumat (11/7/2025).

Kendala lain adalah rantai pasok yang dibutuhkan industri. Tauhid mencatat bahwa beberapa pabrik di sektor padat karya di Tanah Air saat ini mengimpor bahan baku dari negara tetangga, sehingga mereka akan membutuhkan biaya yang sangat besar jika harus dipasok ke pabrik yang ada di AS.

“Kedua, rantai pasok. Rantai pasoknya kan juga sudah diperhitungkan. Dari sini memindahkan rantai pasok ke Amerika itu tidak mudah. Misalnya, rantai pasok kita kan sebagian dari negara tetangga. Begitu pindah dari negara lain, ya itu kan besarnya (biaya) luar biasa,” paparnya.

Kendati begitu, Tauhid memandang ekspansi dapat dilakukan bila persyaratan hanya berupa capital intensive. Lalu, rantai pasok yang dibutuhkan tersedia di Amerika Serikat.

Tidak Mungkin

“Ini hanya bisa kalau misalnya syaratnya dua: capital intensive dan rantai pasoknya di Amerika itu eksis. Kalau tidak ada, tidak mungkin. Dan yang punya potensi apa? Sedikit saya kira yang kemudian bisa dibangun di sana,” bebernya.

“Kan tidak mungkin bangun (pabrik) misalnya otomotif, bangun di sana. Ya kan sudah punyanya Jepang, tidak mungkin orang Jepang juga mau pindah ke sana karena market-nya kan sesungguhnya ada di sini. Kecil ya kemungkinannya,” lanjut Tauhid.

Donald Trump memang meminta Indonesia membangun pabrik di Amerika Serikat sebagai syarat untuk menghindari tarif impor 32 persen. Namun, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho, menilai, permintaan Trump jauh dari kata realistis dan bertentangan dengan kepentingan ekonomi nasional.

“Tidak ada untungnya ke Indonesia jika industri-industri yang selama ini mengekspor ke AS dipaksa untuk pindah ke AS,” ungkapnya.

Menurut dia, pembangunan pabrik di AS akan berdampak serius terhadap sektor padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), yang selama ini menjadi salah satu penyumbang besar ekspor RI ke AS dan menyerap jutaan tenaga kerja.

Padahal, salah satu alasan pemerintah menegosiasikan penurunan tarif Trump 32 persen adalah agar industri padat karya ini bisa tetap berjalan. Selain itu, Indonesia masih membutuhkan industri padat karya untuk menghadapi persoalan penyediaan lapangan kerja formal. Relokasi industri ke luar negeri hanya akan memperburuk kondisi ketenagakerjaan.

“Jadi, jika industri-industri ini dipindahkan ke AS, apalagi yang perlu dilindungi di Indonesia? Sama saja menghilangkan alasan dasar Indonesia harus bernegosiasi dengan AS,” ucapnya. (sabar)

CATEGORIES
TAGS