Pelemahan Rupiah Juga Dipengaruhi Kondisi Fundamental Ekonomi Domestik dan Tingkat Kepercayaan Investor

Loading

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di posisi Rp 17.668 per dollar Amerika Serikat (AS), melemah 71 poin atau 0,40 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, kurs JISDOR Bank Indonesia juga menunjukkan tekanan serupa. Rupiah berada di level Rp 17.666 per dollar AS, turun dibanding posisi sebelumnya Rp 17.496 per dollar AS. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, kenapa rupiah terus melemah, apa penyebab nilai tukar rupiah melemah, dan apa yang terjadi jika rupiah melemah semakin dalam?

Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Dampaknya pun dinilai tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari, investasi industri, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kenapa rupiah terus melemah? Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya dollar AS di tengah meningkatnya risiko inflasi global akibat lonjakan harga minyak dunia.

Menarik Dana

“Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim, Senin (18/5/2026).

Kenaikan harga energi membuat pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini membuat investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset berbasis dollar AS yang dianggap lebih aman. Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga ikut memperburuk sentimen pasar.

Serangan drone di wilayah Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, ditambah memanasnya hubungan AS dan Iran, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Kondisi ini mendorong harga minyak melonjak dan memperbesar tekanan inflasi global.

Ibrahim juga menilai komunikasi pemerintah ikut memengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan investor.

“Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima, Senin (18/5/2026). (sabar)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS