Prabowo dan Gibran Beda Pendapat Tentang MBG, Saidiman; Runtuh Legitimasi Prabowo di Akar Rumput
![]()
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Program makan bergizi gratis (MBG) tidak hanya menjadi sorotan masyarakat karena praktik korupsi di dalamnya, dan terjadinya keracunan massal kepada siswa hingga guru, tapi juga karena perbedaan pandangan dalam implementasinya.
Pemerintah terutama pihan Badan Gizi Nasional (BGN) terkesan terus ngotot untuk terus menjalankan program MBG, di tengah derasnya desakan agar program tersebut dievaluasi total bahkan dihentikan.
Jika BGN terkesan ngotot menjalankan MBG setiap hari di tengah banyaknya kasus keracunan massal yang terjadi, lain lagi dengan pandangan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka.
Wapres Gibran justru mengajak siswa yang telah menjadi korban MBG untuk membawa bekal dari rumah, dan tidak perlu mengonsumsi MBG. Hal itu dia sampaikan saat menjenguk korban keracunan MBG yang masih dirawat.
MBG Jangan Dimakan
“Wapres ke korban MBG: “Kamu hari ini pulang, besok sekolah, ya. Nanti bawa bekal dari rumah. MBG jangan dimakan,” kata peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad, dikutip dari akun media sosialnya, Rabu (30/9/206).
Munculnya pernyataan Wapres Gibran sebagaimana pada video yang banyak beredar di media sosial, dinilai Saidiman Ahmad sebagai bentuk perbedaan pandangan antara presiden dan wapres dalam implementasi program MBG.
“Ternyata presiden dan wakil presiden memiliki pandangan yang berbeda soal implementasi program MBG. Wapres menginginkan target MBG hanya pada kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi terendah, sementara presiden ingin semua diberi makan,” kata Saidiman.
Dia lebih lanjut menilai bahwa wapres ingin pelaksanaan MBG melibatkan dapur-dapur warga di sekitar sekolah seperti kantin sekolah, sementara pelaksanaannya justru menggunakan konsep dapur terpusat yang sebagian besarnya dikelola militer dan polisi.
Tidak Sungkan
“Yang menarik, perbedaan ini tidak sungkan diungkapkan ke publik,” kata Saidiman Ahmad.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa, dari sekian lembar tafsir politik yang bisa dibaca dari sini, yang paling penting untuk sementara adalah bahwa ternyata kekuasaan Prabowo tidak sepenuhnya terkonsolidasi di kalangan elit.
Runtuhnya legitimasi politik presiden di tingkat akar rumput, sebagaimana yang terpotret dalam survei opini publik, rupanya bergema jauh dan membuat loyalitas elit mulai retak.
“Ungkapan Wapres pada korban MBG ini, lalu pidato ketua Demokrat tentang demokrasi, juga pernyataan Ketua PAN mengenai MBG adalah gejala politik yang penting dibaca dalam satu tarikan nafas,” sebutnya. (sabar)
