Pemimpin Harus Beri Contoh, Tidak Hanya Memerintah

Loading

Oleh: Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

PEPATAH mengatakan guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Artinya, pasti semua yang membaca tulisan ini memahaminya kalau tidak keterlaluan. Namun sekedar mengingatkan, yang dimaksud oleh pepatah kuno ini adalah agar semua pemimpin yang digambarkan sebagai figure guru, memberi contoh yang baik. Sebab kalau tidak, sang murid atau yang dipimpin akan berperilaku yang lebih jelek lagi ketimbang perilaku yang dipertontonkan si guru.

Pepatah ini juga menekankan agar para pemimpin memberi contoh konkret dan tidak terpaku hanya pada perintah lisan atau tertulis. Akan tetapi harus bertindak nyata. Tidak sedikit memang pemimpin yang kita kenal adalah figur yang hanya cakap memberi perintah dan pintar berpidato.

Pemimpin yang dimaksud di sini tidak terbatas hanya pada pemimpin kelas tertinggi, namun pemimpin arisa sekali-pun, sudah jarang memberi contoh nyata melainkan hanya duduk di singgasana terhormat, lalu memebri perintah.
Ironisnya, sang pemimpin yang berperilaku seperti itu, jangan-jangan tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan kepada para yang dipimpin.

Itu baru tingkat arisan misalnya. Bagaimana jika kita telisik gaya kepemimpinan tingkat tinggi dari presiden ke menteri dan gubernur hingga tingkat erte. Jika mengacu kepada judul tulisan ini yang menyebut pemimpin tidak hanya memerintah akan tetapi harus memberi contoh, rasa-rasanya hanya sedikit yang sepadan dengan tulisan ini.

Memang benar, seorang pemimpin harus pintar bicara apalagi berpidato. Seorang pemimpin harus bisa membentuk opini dan mempengaruhi seluruh yang dipimpin lewat kata-kata yang dikumandangkan lewat panggung. Bahkan lawan politiknya-pun harus bisa tunduk kepadanya hanya lewat kata-kata.

Namun, pidato dan kata-kata yang dikeluarkan seharusnya sepadan atau sama dengan tindakan. Misalnya, seorang pemimpin yang selalu mengumandangkan penegakan hukum, terhadap dirinya juga dia harus bertindak tegas.

Penegakan hukum jangan hanya diarahkan kepada yang dipimpin, akan tetapi kepada diri sendiri dan kelompoknya-pun, bahkan kepada anak dan istrinya, hukum harus selalu dan selalu ditegakkan.

Jangan sampai muncul rumors yang menyebut kalau penegakan hukum di Indonesia ibarat pisau yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Artinya, hukum itu hanya mempan kepada rakyat lapisan bahwa sementara untuk lapisan atas hukum itu tidak mempan.

Alangkah nikmatnya jika ada pemimpin yang senang menyerukan “tegakkan hukum…tegakkan hukum…!!!” diiringi pula dengan lakon yang benar-benar menegakkan hukum di lingkungannya sendiri. Baik anak, istri dan kolega yang terlibat kasus-kasus pidana atau kaksus apa-pun, harus segera diserahkan kepada aparat penegak hukum agar apa yang disuarakan sesuai dengan apa yang dilakonkan dan jangan sekali-kali melindunginya.

Jangan pula nanti disebut pemimpin yang lips servis, lain di bibir lai di hati dan yang lebih parah lagi dituduh sebagai pemimpin yang bisanya hanya melakukan pencitraan sementara untuk action, entar dulu. ***

CATEGORIES
TAGS