Pembiasaan

Loading

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

BANGUN pagi, ‘ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi… Inilah sebuah hasil dari pembiasaan. Senyum dan bertegor sapa dan berucap salam ketika berjumpa dengan teman sejawat, dengan atasan atau bawahan, adalah bagian dari proses pembiasaan. Kalau hal-hal semacam ini kita kerjakan secara rutin dan berulang, maka pembiasaan itu akan menjadi kebiasaan. Tentu pembiasaan-pembiasaan tadi yang mempunyai nilai kebaikan dan kemuliaan.

Pembiasaan berbohong, menipu, mencuri dan selingkuh, kalau kelakuan ini dilakukan berulang, tentu lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang nilainya buruk dan jauh dari kemuliaan dan pada akhirnya akan merusak kepribadian seseorang. Hal yang paling terpuji dan benar menurut paramater dan norma apapun, adalah hidup kita selalu disemangati dengan derap langkah pembiasaan yang bernilai positif, produktif, kebaikan dan kemuliaan bagi kepentingan kita bersama. Hasilnya pasti akan menjadi kebiasaan.

Pembiasaan yang bermuara di kebiasaan adalah proses pendidikan dan pembelajaran tanpa henti yang murah biayanya, tapi hasilnya maksimal dilihat dari ukuran apapun, baik yang berdimensi material maupun spiritual. Membangun keluarga, masyarakat, negara dan bangsa untuk menjadi keluarga yang maju dan memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual modalitasnya murah saja, yaitu melakukan proses pembiasaan untuk menjadi kebiasaan yang bernilai positif bagi diri dan keluarganya.

Demikian pula kalau kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa terdidik dan terlatih di sepanjang waktu (pagi, siang, malam) dalam proses pembiasaan yang lebih terpimpin untuk melakukan tindakan yang baik dan terpuji, maka kebiasaan yang terbentuk pasti akan menjadi baik dan terpuji di kehidupan masyarakat, bernegara dan berbangsa. Metode pembiasaan untuk menghasilkan kebiasaan yang baik dan terpuji tidak memerlukan investasi yang besar, yang diperlukan hanya niat, kesadaran dan mau menjalankan.

Tidak perlu modal lain-lain. Seperti misalnya kita mau menjalankan ibadah dan melaksanakan kegiatan ritual keagamaan pada umumnya. Kebiasaan bohong dan kebiasaan korupsi terjadi karena proses pembiasaan. Sayangnya, nilainya buruk dan merugikan. Supaya kebiasaan bohong dan korupsi tidak terjadi, langkah mudah yang dijalankan adalah berniat tidak akan bohong dan korupsi. Sadar sesadar-sadarnya bahwa kalau berbohong dan bertindak korup pasti hasilnya merugikan bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, negara dan bangsanya.

Sesudah itu, baru sehari-hari kita jalankan niat dan kesadaran tersebut dalam tindakan yang nyata. Langkah lain yang tak kalah penting dalam melaksanakan progam pembiasaan hidup yang bermakna kebaikan dan kemuliaan, adalah melaksanakan pembiasaan untuk saling mengingatkan dan saling memberikan catatan kecil kepada sejawat, saudara, atasan atau bawahan tentang kebaikan dan kemuliaan dan pentingnya bagi kehidupan kita bersama.

Persoalannya adalah ketika proses pembiasaan yang kemudian diharapkan menjadi kebiasaan terutama agar kita terbebebas dari kebiasaan buruk dan kemudian menjadi terbiasa dan kulino untuk selalu berbuat baik, manusia terjebak pada situasi yang conflicting. Konflik antara di satu pihak agar bisa hidup dengan cara baik dan benar menurut norma agama, norma hukum dan norma-norma yang hidup di tengah masyarakat, di sisi yang lain, manusia dihadapkan pada realitas kehidupan yang lingkungannya sangat mengganggu dirinya untuk menjadi manusia yang baik dan mulia.

Yang bisa menyelesaikan konflik seperti itu adalah dirinya sendiri bagi setiap manusia. Maka dari itu, mengikuti dan melaksanakan progam pendidikan dan pelatihan pembiasaan untuk menjadi insan yang selalu berkiblat kepada kebaikan dan kemuliaan harus terus-menerus kita jalani secara istiqomah oleh kita semua apapun kedudukan dan pangkatnya. Pembiasaan dan kebiasaan hidup kita untuk menjadi manusia yang baik dan mulia harus kita jadikan falsafah dan pandangan hidup kita bersama.

Tidak perlu kita membuat falsafah dan pandangan hidup yang lain. Manusia tidak pernah diciptakan untuk menjadi malaikat dan tidak pernah pula diciptakan sebagai setan. Manusia diciptakan untuk menjadi dirinya sendiri sebagai manusia. Manusia yang bisa memimpin dan mendidik dirinya untuk menjadi manusia yang baik dan mulia. Di saat manusia diberi amanah untuk menjadi pemimpin, maka jadilah pemimpin yang slogan, visi dan misi kepemimpinannya berbasis kepada pembiasaan untuk mengajak dan memberikan contoh untuk menjadikan dirinya, warganya dan anggotanya menjadi orang yang baik dan mulia yang mewujud dalam pola pikir dan pola tindaknya sehari hari.

Misi kemanusian yang paling utama dari setiap manusia sesungguhnya bukan untuk meraih kekuasaan tapi untuk meraih kehidupan agar mendapatkan kemuliaan. Kekuasaan tidak pernah abadi. Yang abadi adalah kemuliaan. Kekuasaan yang abadi adalah hanya miliknya Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Hukum dibuat untuk ditegakkan bukan untuk diperdebatkan dan dijadikan tontonan. Politik diciptakan bukan untuk ajang bersilat lidah dan pembelaan diri dan kemudian juga dipertontonkan. Makanya berpolitik itu harus santun, bukan hanya sekedar berdebat dan berbeda pendapat dengan alasan demokrasi, yang kemudian hasilnya tidak jelas.

Harapan terhadap negeri ini untuk menjadi bangsa yang besar masih sangat terbuka, tetapi pada saat yang sama mari kita mulai dengan melakukan pembiasaan yang kemudian menjadi kebiasaan untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan menyesatkan. Yang selanjutnya kita sama-sama mulai melakukan pembiasaan agar kita bisa hidup yang mendatangkan kebaikan dan kemuliaan. Progam pembiasaan semacam ini agar keberhasilannya terukur, maka targetnya harus ditetapkan, yaitu dalam satu dekade ke depan. Indonesia harus dijadikan negara bebas korupsi.***

CATEGORIES
TAGS