Para Pelangganlah yang Menentukan
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi
JIKA kita percaya dengan pola pikir pasar atau logika pasar, maka kalimat yang dipakai pada judul opini ini sebaiknya dapat menjadi bahan renungan bagi para pelaku ekonomi yang menawarkan produk dan jasa yang dihasilkan. Para pelangganlah yang menentukan bisa mengandung makna bahwa pertama, dalam perekonomian yang dewasa ini tumbuh makin membuktikan aspek yang berkaitan dengan dinamika di sisi permintaan telah menjadi arus utamanya.
Kedua, premis ini juga sudah makin menjawab fenomena ekonomi bahwa siapa yang berhasil membangun sistem perekonomiannya dengan efisien, merekalah yang memilki kesempatan pertama untuk bisa menangkap peluang pasar yang ada di semua negara. Apakah peluang pasar untuk menjaring para investor menanamkan modalnya cukup mengesankan.
Dari sisi pasokan hanya ada satu jawaban yaitu tangkap peluang dan potensi tersebut sebesar-besarnya agar para produsen dapat menikmati keuntungan dan bisnisnya dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Bagi pemerintah di masing-masing negara harus juga berbuat sesuatu yang konkret menggunakan seluruh instrumen kebijakan negara agar bangsa dan negaranya juga dapat meraih hasil yang maksimal untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.
Singkat kata, masing-masing pihak di setiap negara harus siap bersaing dan sistem ekonomi dengan seluruh perangkat kebijakannya juga harus bersaing dan dapat melayani kebutuhan para pelanggannya dengan efisien, cepat, real time dan murah. Tanpa harus berdebat panjang tentang sistem perekonomiannya seperti apa,yang pasti dari sisi penawaran,pelaku ekonomi dan pemerintah tidak ada pilihan lain harus segera bangkit untuk menangkap peluang yang ada. Tapi ingat, “para pelangganlah” yang secara “demokratis” bisa menentukan.
PM Jepang Shinzo Abe dinilai berhasil membangkitkan elonomi Jepang dari pertumbuhan negatif menjadi positif. Ada tiga instrumen ekonomi paling menonjol digunakan. Pertama, memaksa Bank Central Jepang melonggarkan kebijakan moneternya, yang berarti memasok uang yang beredar ke pasar dalam jumlah besar.
Kedua, Bank Central Jepang melakukan pembelian obligasi (semacam quantitative easing) agar masyarakat dan korporasinya memiliki likuiditas untuk “berbelanja”. Ketiga, melakukan devaluasi yen terhadap dolar AS dengan dua tujuan sekaligus, yakni agar korporasi Jepang dapat meraih laba dan daya saing internasionalnya makin menguat di pasar ekspor.
Contoh lain adalah China, dalam membangun daya saing ekonominya untuk jangka menengah-panjang, pemerintahnya sangat memperhatikan akan pentingnya inovasi. China megatrend dengan delapan pilarnya yang membuat dahsyat China, antara lain ada spirit untuk menjadikan negaranya inovatif.
Ada delapan nilai pokok yang dikembangkan,yakni 1)Meningkatkan taraf pendidikan dengan memberikan pelatihan yang jauh lebih tinggi untuk orang-orang yang inovatif. 2) Meningkatkan kapasitas inovasi mandiri. 3) Menambah pengeluaran belanja negara untuk inovasi mandiri. 4) Menciptakan sistem yang berorientasi pasar untuk inovasi teknologi. 5) Terus menciptakan kondisi yang kondusif bagi inovasi. 6) Meningkatkan industri teknologi baru dan tinggi serta mengembangkan industri informasi, bioteknologi, material baru, antariksa, kelautan. 7) Menyeimbangkan pembangunan perkotaan dan pedesaan serta membangun pedesaan sosialis baru. 8) Memperluas bidang pembukaan diri dan pembaruan indiustri dan menyeimbangkan pembangunan antardaerah. Dalam konteks Indonesia, pada dasarnya pemerintah juga harus melakukan hal yang tanpa harus mengcopy paste dari praktek kebijakan dan strategi dari negara lain.
Tapi secara universal tujuannya adalah sama, yaitu agar bangsa dan negaranya dapat bersaing dalam sistem ekonomi yang terbuka, agar dapat makin mampu memenuhi kebutuhan pelanggannya, produsen dan konsumen. ***
