Menyelamatkan Ekonomi Melalui P3DN

Loading

Oleh : Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

APAKAH kita semua setuju kalau diminta oleh negara, atas nama pribadi atau komunitas, dengan penuh kesadaran berikrar untuk menggunakan produk buatan dalam negeri? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Tapi, jika tanpa pikir panjang kita semua menyatakan siap demi bangsa dan negara, maka program P3DN akan berhasil menjadi penyelamat evolusi pembangunan ekonomi Indonesia, tanpa harus mengatakan go to hell produk impor atau memboikot produk impor.

Dan kalau yang satu ini sukses,WTO tidak akan bisa marah kepada Indonesia. Atau siapa pun, bangsa-bangsa lain di dunia. Paling banter hanya akan bilang sialan. Kebutuhan papan, pangan, sandang, dan energi saja, kalau seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta memenuhi hajat hidupnya dengan produk buatan dalam negeri, berarti kita telah memuliakan Indonesia. Berarti, kita telah menjadi bangsa yang berperadaban tinggi, karena berhasil saling memuliakan, saling menghargai, dan saling memberikan pengakuan satu sama lain. P3DN memang harus digarap melalui proses pendalaman secara intelektual, spiritual, dan emosional.

Proses intelektual akan membawa bangsa Indonesia mampu menggunakan akal sehat untuk melakukan pilihan secara rasional bahwa yang bisa membuat ekonomi bangkit adalah kita sendiri. Proses spiritualitas berarti nuraninya akan memberikan dorongan bahwa yang dapat membuat ekonomi bangsa ini bergerak kalau di antara kita saling memberikan pengakuan dan saling memberikan apresiasi. Barangkali di dalam hatinya akan mengatakan bahwa P3DN ada nilai ibadahnya.

Proses emosionalitas berarti seluruh komponen bangsa akan mengatakan bahwa semangat nasionalisme itu penting (atau kalau di Jepang semangat bushido) untuk menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat. Penduduk Indonesia pada 2050 diperkirakan mendekati 300 juta jiwa. Semangat kebangsaan yang berhasil terbangun cukup untuk membangun economic of scale, pabrik-pabrik skala kecil dan skala menengah beroperasi di negeri ini dan bekerja tiga shift.

Siapa pun yang berminat mulailah dari sekarang berinvestasi di industri manufaktur berskala kecil dan menengah. Jangan dibayangkan bahwa pabrik-pabrik berskala kecil dan menengah yang tumbuh di masa yang akan datang, seperti yang sekarang. Di masa depan, mereka hadir dengan sosoknya yang baru, yaitu makin berbasis iptek seiring kemajuan peradaban.

Sistem pendidikan telah berhasil mengubah sifat dan perilaku anak bangsa yang tadinya konsumtif menjadi lebih produktif, kreatif, dan inovatif, karena menguasai iptek. Percaya dirinya akan makin tinggi. Egonya akan mengatakan saatnya kita harus berbuat untuk masa depan ekonomi bangsa. Mereka malu kalau dikatakan hanya bisa makelaran atau hanya bisa berdagang. Mereka juga bisa menjadi nervous dan marah kalau disebut sebagai pemboros devisa, karena mereka sudah berkemampuan menjadi pahlawan pencipta devisa.

Nalar dan nurani seperti ini yang akan mampu membawa negeri ini meraih kebangkitan dan kejayaannya di bidang ekonomi. Para pemimpin dari presiden sampai lurah harus bisa melakukan upaya ini. Pun tanggung jawab serupa untuk melakukan langkah serupa oleh pemimpin parpol, ormas, para pendidik, cendekiawan, dan lain-lain memberikan pendidikan berwawasan kebangsaan. Dan di bidang ekonomi yang paling strategis adalah memasyarakatkan pelaksanaan program P3DN, karena akan bisa membangkitkan ekonomi Indonesia.

Buat negeri ini memang tepat membangkitkan ekonomi mulai dari dalam, ketika orang miskin dan yang menganggur masih banyak, dan ketimpangan antarwilayah dan antarkelompok pendapatan masih ada gap yang cukup lebar. Semoga hal itu berhasil kita wujudkan. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS