Kemenperin Dorong Wastra Indonesia Naik Kelas melalui Kolaborasi Industri dan Pariwisata
![]()
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri wastra nasional agar semakin inovatif, berdaya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan mancanegara.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dengan Discovery Kartika Plaza Hotel dalam penyelenggaraan Journey of Wastra di Badung, Bali, pada 2 Oktober 2026, sebagai bagian dari peringatan Hari Batik Nasional 2026.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan, pengembangan wastra merupakan bagian penting dari upaya memperkuat industri tekstil dan pakaian jadi nasional, sekaligus menjaga kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber keunggulan industri fesyen.
“Selain berbagai upaya dalam melestarikan industri wastra nasional, kita harus memastikan bahwa wastra tetap menjadi identitas dan ciri khas dalam pengembangan industri fesyen nasional,” kata Menperin di Jakarta, Rabu (14/10).
Berdasarkan data Kemenperin, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh sebesar 6,36 persen pada triwulan II tahun 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, nilai ekspor tekstil dan pakaian jadi sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai USD7,18 miliar. Indonesia juga memiliki 465 sentra tenun dan 200 sentra batik yang menjadi bagian penting dari ekosistem industri wastra nasional.
Menurut Menperin, capaian tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan industri wastra, terutama melalui peningkatan inovasi, diversifikasi produk, dan penguatan daya saing.
Namun, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain regenerasi perajin, persaingan dengan produk tekstil bermotif batik, serta kompetisi global dengan negara produsen yang memiliki struktur biaya lebih efisien.
“Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi produk wastra, mulai dari desain dan diversifikasi produk hingga penguatan merek, nilai produk, dan pemasaran. Dengan demikian, kekayaan budaya wastra dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu menjawab kebutuhan pasar,” tambahnya.
Langkah Strategis
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita menyampaikan, Journey of Wastra menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri fesyen dan kriya melalui kolaborasi lintas sektor.
Kegiatan tersebut menghadirkan ruang pertemuan bagi pelaku industri wastra, desainer, akademisi, dan masyarakat untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan kreativitas, memperluas jejaring usaha, serta membuka peluang akses pasar.
“Selain mempromosikan potensi dan kekayaan wastra nasional, kami berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya berbagai kolaborasi antara pelaku industri wastra dan sektor terkait,” ungkap Reni.
Ia menambahkan, kekuatan utama wastra Indonesia terletak pada identitas dan nilai budaya yang melekat pada setiap produknya. Tantangan berikutnya adalah mengolah keunggulan tersebut menjadi produk yang sesuai dengan perkembangan tren dan kebutuhan konsumen.
“Tantangannya adalah bagaimana kekuatan identitas dan nilai budaya tersebut dapat diterjemahkan melalui desain menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen,” jelasnya. (sabar)


