Indonesia Hanya Jadi Tong Sampah ? Apa Solusinya

Loading

sabar41

Oleh: Sabar Hutasoit

 

ADALAH Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita yang mengatakan kalau Indonesia saat ini hanya menjadi ‘tempat sampah’ bagi produk-produk impor berkualitas abal-abal. Apakah itu produk makanan dan minuman, pakaian jadi, sepatu, elektronika dan alat-alat berat lainnya.

Semuanya masuk dan menjadi satu dalam tong sampah tersebut. Namun, kendati produk-produk tersebut dimasukkan ke dalam tong sampah, bukan berarti barang berkualitas abal-abal itu selanjutnya lalu dibuang. Tidak.

Tapi dibeli oleh warga Indonesia. Bahkan para konsumen dengan rasa bangga memborong barang-barang tersebut dengan alasan, sudah barang impor, harganya murah pula. Intinya, barang-barang impor yang kita sebut berkualitas abal-abal itu, ternyata bagi masyarakat kebanyakan, justeru kebalikannya, bermerek dari luar negeri, tapi dibeli dengan harga yang teramat murah.

Karena itu, mau disebut barang afkiran, mutu rendah dan barang bekas sekalipun, bagi sebagian besar warga Indonesia tidak jadi soal dan gak ngaruh. Yang penting bisa beli barang yang diharapkan dengan harga murah.

Dan memang, bagi broker barang-barang afkiran dan barang bekas impor itu, Indonesia bagaikan ‘’surga’’ dan pasar empuk. Bayangkan calon pembelinya cukup melimpah, 250 juta jiwa. Ini merupakan pasar yang menggiurkan. Karena itu tak heran jika Indonesia dijadikan sasaran pemasaran produk tiruan alias KW yang oleh menteri Enggar disebut Indonesia hanya jadi tong sampah.

Lalu apa langkah atau strategi kita untuk mengatasinya. Bisakah kita melarang masyarakat untuk tidak membeli barang-barang bekas itu? Tentu tidak bisa. Mau terbitkan aturan melarang membeli barang bekas? Entar dulu sobat…

Salah satu strategi adalah menyuguhkan produk-produk sejenis kepada masyarakat konsumen dengan mutu dan harga yang sangat murah. Tandingi produk impor tersebut dengan produk lokal yang mutunya tak kalah dan harga-pun bersaing.

Hanya dengan cara demikian rasanya, julukan Indonesia hanya jadi tong sampah seperti disebut menteri Enggar, bisa dihapus dan Indonesia kemudian tampil menjadi tuan di negeri sendiri.

Tapi apakah Indonesia bisa memproduksi barang bermutu dengan harga murah ? Ini pula-lah salah satu bagian yang menjadi pe-er (PR)-nya para petinggi-petinggi negeri ini, apakah itu para penghuni Senayan sana, penguasa-penguasa istana dan para eksekutor.

Agar produsen bisa memproduksi barang bermutu dengan harga terjangkau, tentunya para produsen harus mendapatkan infrastruktur-infrastruktur yang mendukung.

Apakah itu bahan baku, energy, tingkat suku bunga bank atau mungkin diperlukan insentif dari pemerintah. Tapi apa mau dikata, harga gas industri saja di Indonesia berada pada posisi yang sangat tinggi. Demikian juga suku bunga bank, termahal dibanding negara-negara yang lain.

Dari dua komponen ini saja, yakni gas dan suku bunga bank, produk nasional kita sudah kalah duluan. Artinya, belum diproduksi-pun produk kita sudah dipastikan kalah sebelum bertanding.

Dengan fakta-fakta tersebut, lalu bagaimana pemerintah bisa mensukseskan program P3DN (peningkatan penggunaan produk dalam negeri) dengan ikon “Aku Cinta Produk Dalam Negeri”?

Tampak program P3DN tidak cukup hanya slogan saja, tapi harus dibarengi dengan action. Dan tidak saatnya lagi kita hanya sebatas memberi nilai KW alias mutu abal-abal atas barang-barang impor yang dijual murah di Indonesia. (penulis adalah wartawan dan pemimpin redaksi www.tubasmedia.com)

CATEGORIES
TAGS