Fauzi: Fenomena de-Industrialisasi Menjadi Sangat Serius Bila Kontraksinya Terus Berlanjut

Loading

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pengamat industri dan ekonomi, Fauzi Aziz mengatakan, fenomena de-industrialisasi pada dasarnya sebuah kondisi dimana sejumlah industri tertentu mengalami kontraksi pertumbuhan sehingga kontribusinya terhadap PDB tidak optimal.

Saat ini hanya sekitar 18%, yang berarti jauh dari target RIPIN sebesar 24,9% tahun 2020, dan 27,4% tahun 2025. Untuk mencapai target tersebut, industri pengolahan non migas harus tumbuh tinggi antara 8 hingga 9% pada periode yg sama.

‘’Fenomena de-industrialisasi menjadi sangat serius bila kontraksinya terus berlanjut,’’’ kata Fauzi Azis kepada tubasmedia.com di Jakarta, Kamis (28/08/23) mengomentari berita bahwa Indonesia, saat ini sedang dilanda de-industrialisasi.

Jika hal itu terus terjadi, lanjut Fauzi, ancamannya, Indonesia bisa gagal menjadi negara industri maju baru, yang dalam RIPIN ditargetkan pada tahun 2035, industri bisa tumbuh 10% dengan kontribusi terhadap PDB ekonomi sekitar 30%.

‘’Semoga saja masalah yang dihadapi industri dewasa ini bersifat cyclical karena faktor demand agregat yang turun naik di pasar dunia. Tapi bila problemya bersifat fondamental, maka restrukturisasi industri dapat menjadi pilihan kebijakan yang harus dilakukan,’’’ katanya.

Namun disebut, menghadapi masalah gtersebut, Indonesia mau tidak mau harus melakukan transformasi struktural melalui proses yang inovatif dan mendesain ulang struktur industri yg akan diwujudkan.

Transformasi katanya selalu membutuhkan suntikan modal, teknologi dan dukungan publik policy yang bersifat komprehensif. Upaya ini dapat diwujudkan dengan cara menyusun kerangka kebijakan investasi, industri dan perdagangan dalam satu tatanan policy yang bersifat koheren.

‘’Arah pembangunan dan pengembangannya bersifat by design ketimbang bersifat across the board agar alokasi sumber daya pendukungnya dapat optimal dan efisien digunakan,’’ jelasnya menambahkan industrialisasi yang berhasil adalah harus pro pasar dan eco friendly.

Secara makro berarti bahwa industri harus bisa menjadi sumber peningkatan pendapatan per kapita yang tinggi, serta penyumbang surplus neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan,

Fauzi memberi contoh, industri global seperti Samsung agar bisa bertahan hidup selalu melakukan restrukturisasi industrinya yang didukung oleh pemerintahnya.

‘’P3DN dalam spektrum yang luas dapat menjadi policy respon untuk mengatasi gejala de-industrialisas,’’ ucapnya.

Sementara itu, Benny Sutrisno menyatakan kalau di Indonesia saat ini memang sedang terjadi de-industrialisasi. Kenapa itu bisa terjadi, karena pertumbuhan ekonomi membesar bukan karena industri manufaktur , tapi karena industri extractive (tambang )

Selain itu juga, kolaborasi antar lembaga penunjang pertumbuhan industri manufaktur tidak kompak.

Sebagaimana diberitakan,Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional RI/Basan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan, saat ini Indonesia mengalami deindustrialisasi dini.

Deindustrialisasi merupakan proses kebalikan dari industrialisasi, yaitu penurunan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Saat ini kalau kita lihat kita mengalami deindustrialisasi dini. Karena share manufaktur Indonesia yang dulu sempat menyentuh angka 32 persen sekarang hanya 18,3 persen,” kata Deputi Bappenas Bidang Ekonomi, Amalia Adininggar dalam Seminar Beasiswa LPDP di Jakarta, Kamis (27/7/2023). (sabar)

 

 

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS