Si Komo Bikin Jarak Menjadi Jauh
![]()
Laporan : Christine

Franky Sibarani
JAKARTA, (Tubas) – Triwulan pertama tahun 2011 hampir terlewati. Tonggak perdagangan bebas dalam ASEAN-China Free Trade Agreements (ACFTA) yang diberlakukan sejak Januari 2010, mengingatkan betapa kuatnya amunisi gempuran produk industri Cina yang bukan hanya mengancam, tetapi telah menggoyahkan kelangsungan hidup berbagai sektor industri manufaktur di Indonesia.
Menurut Wakil Sekjen Apindo, Franky Sibarani salah satu faktor pengganjal dan berpengaruh pada tingginya biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha pada pengangkutan bahan industri dari pabrik ke pelabuhan dan sebaliknya adalah dampak infrastruktur. “Anda boleh lihat jalan sekitar Kawasan Berikat Nusantara (KBN) menuju pelabuhan, rusak. Padahal jaraknya itu kan tidak jauh, namun keadaan itu akan bisa menjadi jauh dan menjadi lama karena adanya si komo (macet-red),” ungkapnya.
Apindo DKI Jakarta telah berkali-kali duduk bersama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk membicarakan soal keluhan terkait dengan keadaan jalan menuju pelabuhan. “Namun alih-alih jika anda mencoba bertanyakan kepada PU apa jawaban mereka pasti berdalih volume truk tronton yang melewati jalan terlalu berat sehingga aspal jalan tidak mampu menahan beban, memangnya baru tau truk dan tronton itu perangkat industri?” ungkapnya balik bertanya.
Franky menambahkan salah satu faham yang perlu ditiru dari negara berideologi komunis itu adalah negeri tirai bambu itu telah mampu membuktikan dari aspek ekonomi telah merambah menguasai ekonomi dunia, bahkan menggeser peran negara-negara liberal. Apa kelebihan mereka? Menurut Franky, salah satu kelebihan negeri tersebut aspek produktivitas dan infrastruktur yang didukung oleh pemerintah. Karyawan mampu bekerja secara optimal dengan jeda istirahat yang tidak panjang serta dukungan penuh pemerintah.
“Sebenarnya tidak perlu gentar, gempuran perdagangan Cina memberi hikmah bahwa kita harus bangkit dan pemerintah harus eling terhadap keadaan sekarang ini. Perlu diawali dengan penyusunan perencanaan regional berbasis pada industri masa depan dengan tetap mempertahankan daya saing sektor primer,” ujar Franky. ***
