Pimpinan Ponpes Berupaya Tangkal Radikalisme

Loading

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

BOGOR, (Tubas) – Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) se-Propinsi Jawa Barat sedang berupaya menangkal radikalisme yang dikhawatirkan mengancam keutuhan Negara Republik Indonesia (NKRI). Ada dua faktor yang menjadi akar radikalisme yaitu internal agama dan eksternal agama.

Internal agama meliputi masalah kecenderungan skripturalis/literalis dalam menafsirkan teks agama termasuk sentimen antar agama. Sedang eksternal agama meliputi masalah respon terhadap modernisasi, tekanan politik, ideologi anti westernisme, kebiajakan politik global termasuk kebijakan pemerintah.

Hal ini disampaiakan rektor UIN SGD (Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati) Bandung, Prof. Dr. Nanat Fatah Natsir, MS dalam press release-nya yang disampaikan dalam Ijtima Ulama dan Pondok Pesantren se Jawa Barat di Pondok Pesantren Modern Lembah Arafah Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor, baru-baru ini.

Menurut Nanat Fatah Natsir gelombang redikalisme Islam pasca reformasi terjadi karena konflik antar agama, positivasi syariat Islam, penyerangan terhadap aliran sesat, anti kristenisasi dan anti maksiat.

“Konfilk horisontal bernuanasa agama yang terjadi tahun 1999 di Maluku dan Poso yang berakhir tahun 2002, hal itu membuka ruang aspirasi umat Islam melegislasi syariat Islam yang diikuti lahirnya kelompok Islam radikal. Dan terakhir penyerangan terhadap aliran sesat, anti kristenisasi, anti maksiat, yang mengakibatkan jama’ah Ahmadiyah dan aliran sesat menjadi sasaran utama “ tegasnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Lembah Arafah, KH. Anwar Sanusi membantah hasil survei Malindo Institute dan resume dari penilitian Setara Institute yang mengklaim bahwa sejumlah pesantren di Jawa Barat berpotensi menjadi basis tumbuhnya gerakan yang melahirkan kekerasan. “ Hal itu sengaja dihembuskan pihak-pihak tertentu, karena mereka tidak menginginkan umat Islam bersatu “, katanya

Anwar menegaskan para pendukung gerakan agama yang memperjuangkan kekerasan beranggapan bahwa aksinya didasari pemahaman agama yang tuntas, padahal agama pada dasarnya tidak melegitimal atau membenarkan aksi kekerasan.

Aksi kekerasan ini terjadi karena adanya sasaran yang dituju seperti adanya ajaran Ahmadiyah, aliran sesat, tempat ibadah agama Kristen dan tempat maksiat, “ Tetapi kami secara jujur tidak mendukung aksi kekerasan yang mengatas namakan agama, karena hal ini dikhawatirkan akan mengancam keutuhan bangsa” tegasnya. (muzni)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS