Osaka Steel Hengkang Tinggalkan Indonesia, tak Kuasa Hadapi Tekanan Struktural yang Semakin Berat

Loading

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Di tengah video perpisahan karyawan yang viral, penutupan  PT Krakatau Osaka Steel (KOS) justru membuka isu yang lebih besar bukan sekadar kisah PHK, melainkan sinyal bahwa industri baja nasional sedang menghadapi tekanan struktural yang makin berat.

Penghentian operasional PT KOS tak sekadar menandai berakhirnya satu investasi asing di sektor manufaktur Indonesia. Di balik keputusan Osaka Steel hengkang dari Tanah Air, tersimpan persoalan struktural yang lebih besar, tekanan berat yang sedang dihadapi industri baja nasional.

Setelah hampir satu dekade beroperasi di kawasan industri Cilegon, perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Osaka Steel Co Ltd itu resmi memasuki fase penutupan. Produksi dihentikan mulai 30 April 2026, sementara seluruh aktivitas bisnis dan pengiriman produk dijadwalkan berakhir pada 30 Juni 2026.

Simbol  Optimisme

Langkah ini cukup kontras bila menilik awal pendiriannya. Saat diresmikan, Krakatau Osaka Steel digadang-gadang menjadi simbol optimisme kolaborasi Indonesia-Jepang dalam memenuhi kebutuhan baja konstruksi domestik, khususnya baja tulangan dan profil kecil-menengah untuk proyek infrastruktur. Namun, harapan itu perlahan memudar.

Krakatau Osaka Steel mulai beroperasi komersial pada 2017 dengan nilai investasi mencapai sekitar US$220 juta. Pabrik berdiri di atas lahan 21,6 hektare di Cilegon dan sempat diproyeksikan menjadi salah satu pemasok utama baja long product nasional.

Kinerja perusahaan sempat membaik pada 2021. Tetapi sejak 2022, tekanan mulai terasa.

Osaka Steel mencatat anak usahanya di Indonesia terus membukukan kerugian. Penyebab utamanya adalah penurunan permintaan domestik, margin keuntungan yang terus tergerus, serta meningkatnya tekanan kompetisi di pasar baja. Bahkan laporan industri menyebut free cash flow perusahaan berada dalam posisi negatif secara struktural.

Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, juga mengungkapkan bahwa membanjirnya produk baja impor murah, terutama dari China, membuat produsen domestik kesulitan bersaing pada segmen long product.

Memukul

Salah satu faktor yang disebut paling memukul adalah melambatnya proyek-proyek infrastruktur pemerintah sejak awal 2025.

Karena sebagian besar pasar KOS bergantung pada sektor konstruksi nasional, pengurangan belanja infrastruktur langsung berdampak pada volume penjualan.

Kondisi ini menciptakan tekanan ganda: permintaan turun, sementara kapasitas produksi baja nasional tetap tinggi. Akibatnya, terjadi kelebihan pasokan yang menekan harga jual hingga level yang sulit menopang profitabilitas.

Sejumlah pelaku industri menyebut ini bagian dari gejala deindustrialisasi parsial di sektor baja nasional, terutama pada produk long steel.

Sebelumnya, pabrik long product milik Ispat Indo juga menghentikan operasionalnya. Fenomena ini menunjukkan adanya mismatch antara pertumbuhan kapasitas produksi dan penyerapan pasar domestik.

Jika kondisi ini berlanjut, Indonesia berpotensi menghadapi paradoks industri, kapasitas besar di atas kertas, tetapi utilisasi rendah di lapangan. (sabar)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS