Menjadi Pembelajar yang Baik

Loading

Oleh: Fauzi Azis

ilustrasi

ilustrasi

APAKAH kita tergolong pembelajar? Semoga demikian. Belajar, kata orang bijak tidak mengenal umur dan waktu. Jepang menjadi salah satu negara superpower ekonomi di dunia konon adalah pembelajar yang ulet dan tekun. Kita semua mengetahui bahwa negeri matahari terbit tersebut menurut catatan sejarah, awalnya adalah negara agraris yang miskin.

Bangsa China juga pembelajar yang luar biasa. Mengejar cita-citanya untuk menjadi bangsa yang maju di dunia, China tidak pernah berhenti melakukan proses pembelajaran. Gurunya ada dimana-mana. Ada di lingkungan sekolah dan universitas dan di luar sekolah. Ulet menyelami hal-hal yang dianggap baik untuk dipelajari dalam kehidupan nyata.

Hasilnya menakjubkan. Semua bangsa di dunia mengakui negeri beruang putih itu sejak tahun 1979 mampu bangkit melakukan reformasi dan modernisasi dan berhasil menempatkan dirinya sebagai negara superpower baru di bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonominya bisa mecapai 10% lebih per tahun pada awal-awal kebangkitannya, meskipun sekarang ini sedikit mengalami pelambatan akibat resesi ekonomi global.

Di Asia ada dua negara superpower baru, China dan India. Indonesia harus bisa menjadi pembelajar yang baik. Negeri yang mampu bangkit nampaknya selalu dilakukan melalui sebuah proses pembelajaran dan pendidikan. Kita harus menjadi pembelajar yang baik untuk mengubah keadaan yang kita butuhkan dan tidak harus dengan melakukan copy paste sukses bangsa lain.

Pembelajar yang baik adalah yang mau menengok kesalahan dan kelemahan masa lalu. Memperbaiki dan mengubahnya harus selalu berorientasi pada nilai kebaruan sebagai hasil dari sebuah proses pembelajaran. Belajar adalah sesuatu yang menyenangkan. Siapa yang gemar melakukan pembelajaran adalah orang pertama yang akan mendapat kesempatan memperoleh tambahan ilmu pengetahuan baru.

Tidak harus melalui pendidikan formal, asal rajin mau baca buku rutin dalam berbagai kesempatan, maka pengetahuan kita akan bertambah. Wawasannya akan bertambah luas dan ini bisa menjadi modalitas bagi pengembangan kapasitas diri untuk bisa masuk dalam jaringan koneksi orang-orang yang tidak akan melihat kehadiran kita dengan mata sebelah.

Kita dididik bukan hanya sekedar menjadi orang yang pintar, berketrampilan dan berkeahlian saja. Tapi kita dipersiapkan juga untuk menjadi manusia yang mampu mentransformasi pengetahuan yang kita peroleh untuk membuat diri kita menjadi bijaksana karena spektrum dan daya jangkau berfikirnya luas dan bermakna untuk sebuah perubahan.

Bersekolah bisa berakhir. Namun belajar tidak akan pernah berakhir, kecuali jasad kita sudah rata dengan tanah. Maka dari itu, jadilah pribadi yang senang belajar,senang membaca buku.

Untuk bisa menjadi sukses, semua bisa dimulai dengan membaca buku yang mudah dibaca, majalah populer, internet dan sebagainya. Ajaran konfusius mengatakan bahwa “buku ibaratnya gudang berisi emas”. Sebagai catatan akhir dapat diberikan sebuah ilustrasi bahwa sebuah proses pembelajaran tiada henti akan mampu membentuk bangsa yang berkarakter. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS