Membangun Pemikiran Logis

Loading

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

UNTUK membangun sebuah bangsa yang bermutu, maka modal utama yang sangat berharga adalah mutu manusia yang berpola pikir lurus, jernih dan berpegang teguh pada kaidah-kaidah berpikir yang sehat. Tanpa kualitas pribadi seperti ini, kemajuan sebuah bangsa tidak mungkin tercapai. Tanpa kualitas pribadi yang demikian, maka akan berkembang logika mistika yang melawan esensi nalar yang sehat.

Buku CRITICAL THINKING: Membangun Pemikiran Logis terbitan PT Pustaka Sinar Harapan, tahun 2012, 166 halaman, ditulis oleh para dosen logika Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Kasdin Sihotang, dkk. Buku ini diharapkan menjadi pegangan untuk mengembangkan pola pikir logis, jernih dan runtut di kalangan kaum muda.

Sebab, di era reformasi ini manusia yang berpola pikir demikian, sangat jarang ditemukan. Yang lebih banyak muncul justru manusia yang berkualitas sebaliknya. Yaitu manusia-manusia yang berpikiran bengkok, dan kotor yang tidak berani mempertahankan kebenararan.

Berpikir kritis pada masa lalu sering diartikan secara keliru, karena disamakan dengan mencari-cari kesalahan orang, atau berupaya menyerang dan menjatuhkan seseorang. Kata ”kritis” sering disamakan dengan ”kritik”. Kesalahpahaman itu tidak bisa dianggap remeh, karena bisa mengakibatkan terjadinya pembatasan kebebasan berpendapat, terutama oleh rezim kekuasaan yang cenderung otoriter. Sikap kritis disamakan dengan sikap suka mengajukan kritik atau mempersoalkan pandangan atau kebijakan pemerintah. Itu disamakan dengan pembangkangan.

Akibat yang lebih jauh sudah dapat ditebak. Mereka yang gemar berpikir kritis dan suka mengajukan kritik akan dikekang, bahkan dipenjarakan. Rezim otoriter menganggap orang-orang kritis sebagai pihak-pihak yang berusaha menjatuhkan pemerintah atau kudeta. Mereka dicurigai dan bisa juga diancam. Kegiatannya dipandang sebagai penghambat bagi kemajuan bangsa, terutama membahayakan keberlangsungan kekuasaan. Padahal, sikap kritis tidak sama dengan melawan atau menolak kekuasaan pemerintah.

Berpikir kritis tidak berarti menyerang atau menjatuhkan orang lain, melainkan membangun kemampuan berargumen secara rasional sehingga menemukan kebenaran suatu pandangan.

Sebab, kesesatan penalaran terjadi dalam berbagai argumentasi, bahkan kadang-kadang tidak teridentifikasi. Ironisnya, argumentasi yang menyesatkan itu sering dimanfaatkan untuk meyakinkan orang lain. Jika kesesatan berpikir itu dibiarkan terjadi atau secara sengaja tidak dikoreksi, maka yang menjadi korban adalah mereka yang tidak terbiasa berpikir kritis. Kelompok ini akan menerima begitu saja argumentasi yang dikemukakan karena sepintas terkesan masuk akal, apa lagi kalau gagasan sesat itu dikemas dalam bahasa-bahasa retorika dan trik-trik psikologis yang membuat orang kehilangan sikap kritis.

Buku CRITICAL THINKING ini memang ditulis para dosen itu untuk kalangan mahasiswanya, tentu dengan harapan agar para mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pemikiran sehat, dan baik sehingga dapat menjadi pribadi yang berkualitas. Tetapi buku ini juga perlu dibaca semua orang yang mau berpikir kritis, tentu terutama mahasiswa karena mereka adalah calon cendekiawan dan calon pemimpin masa depan.

Masyarakat luas juga tentu harus mengembangkan keterampilan berpikir kritis agar tidak dengan mudah atau begitu saja ditipu oleh orator-orator politik yang sering menyesatkan. (apul)

CATEGORIES
TAGS