Laju Rupiah Kembali Melemah
![]()

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, pasca menguat di akhir pekan kemarin, laju Rupiah kembali melemah seiring pelaku pasar melakukan peralihan ke Yen yang sedang bergerak menguat.
“Penguatan Yen dipicu antisipasi sentimen negatif dari China berupa pengendalian margin trading yang dipersepsikan kemungkinan adanya pembatasan transaksi tersebut,” jelas Reza, Senin (26/1/15).
Dari dalam negeri, sentimen dari penurunan harga BBM belum cukup mampu mempertahankan penguatan Rupiah. Meski nilai tukar Yuan menguat pasca merespon kenaikan data GDP YoY China namun, tidak diikuti oleh Rupiah yang masih betah di zona merah.
Tampaknya rilis GDP tersebut secara tidak langsung membuat laju Yen mengalami pelemahan terhadap US$. Lalu, US$ pun memanfaatkan kondisi tersebut untuk bergerak menguat sehingga mengakibatkan Rupiah menjadi korban dari take-off nya US$.
“Dari dalam negeri pun belum ada sentimen yang positif yang mampu membuat Rupiah beranjak dari zona merah sehingga terlihat Rupiah terus tertekan,” tutur Reza.
Laju Rupiah berada di bawah target level support 12.620. Tidak jauh berbeda dari sebelumnya dimana belum adanya sentimen positif signifikan masih akan membuat laju Rupiah variatif dengan cenderung melemah.
Laju nilai tukar Rupiah mampu berbalik positif setelah terimbas kenaikan Yen pasca BoJ di sesi akhir memutuskan untuk menolak menambah tambahan stimulus. Laju Yen yang awalnya melemah terhadap US$ dan berimbas pada melemahnya Rupiah menjadi berbalik menguat.
Kenaikan pada Yen mampu melampaui US$ dan mampu mengimbangi pelemahan pada Euro dan Poundsterling. Di sisi lain, menguatnya Won juga turut mendukung berbalik naiknya laju Rupiah.
“Kombinasi sentimen positif tidak hanya berada di pasar saham, di pasar uang pun turut terjadi sehingga membuat laju nilai tukar Rupiah mampu melanjutkan pergerakan positifnya,” ungkap Reza.
Sentimen dari kenaikan kucuran stimulus ECB sebesar €60 miliar (US$69 miliar) dari rencana awal sebesar €50 miliar; pernyataan positif PM China, Li Keqiang, terhadap pertumbuhan ekonomi China; dan target moderat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 sebesar 5,6%-5,8%% lebih tinggi dari tahun sebelumnya memberikan angin positif pada Rupiah.
Ditambah dengan menguatnya Poundsterling dan Yuan terhadap Euro dan US$ turut menambah sentimen positif. Rp 12.745-12.487 (kurs tengah BI). (angga)
