Praktek Politik Comberan Nodai Pileg 2014
![]()
Oleh: Fauzi Azis

ilustrasi
DI dalam negeri saat ini masyarakat disuguhi dua peristiwa politik yang paling menonjol, yaitu koalisi parpol untuk berbagi-bagi kekuasaan dan kekisruhan dalam rekapitulasi hasil pileg 9 April lalu. Peristiwa yang kedua ini menjadi ramai dan cukup membuat parpol dan para calegnya meradang, terutama yang posisinya dirugikan.
Tanggal 6 Mei yang merupakan batas waktu akhir perhitungan di tingkat nasional praktis tidak terpenuhi dan KPU menyatakan untuk melakukan pengunduran waktu. sampai 9 Mei 2014 sebagai batas akhir yang dimungkinkan oleh undang-undang. Apa yang terjadi adalah sebuah peristiwa politik yang amat memilukan bagi bangsa ini yang ternyata belum berhasil mengelola demokrasi dengan cara yang baik dan matang.
Praktek politik comberan dengan sangat vulgar dipertontonkan di ruang publik, baik oleh parpol, para caleg dan para penyelenggara pemilu. Konspirasi politik comberan dibangun dengan arogan hanya demi kekuasaan dan uang. Sebagai rakyat biasa kita tidak kaget dengan kejadian itu karena sudah dapat diduga praktek politik sabun akan marak terjadi dimana-mana.
Peristiwa politik yang sangat menjijikkan ini adalah akibat yang sangat wajar terjadi karena proses politik dan praktek politik yang dijalankan parpol dan para kadernya selama ini sudah mandi air comberan dalam membuat undang-undang, penyusunan anggaran dan melaksanakan pengawasan yang bergelimang dengan air kotor dan lumpur hitam yang sangat koruptif.
Sekarang mereka memanen hasilnya dan sebagian dari hasil tersebut ternyata busuk dan merugikan mereka sendiri. Masuk sampah keluar sampah. Siapa menaman bibit keburukan, mereka pula yang akan merasakan akibatnya. Senjata makan tuannya, begitu kira-kira gambaran praktek penyelenggaraan pileg tahun ini.
Mahar politik akan bertaburan jelang pilpres nanti. Negeri ini hanya dipakai sebagai panggung oleh para badut politik untuk kepentingan transaksional. Amat rendah daya nalarnya dan amat nista kepribadiannya karena demokrasi hanya dipakai untuk tujuan yang tidak terpuji. Apa yang akan terjadi jika tanggal 9 Mei rekapitulasi perhitungan suara tetap tidak dapat diselesaikan?
Jawabnya bencana politik dan musibah ini tidak terjadi kalau perilaku para elit politik yang ikut nyaleg tidak melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Budaya politik jeruk makan jeruk dipertontonkan dalam pelaksanaan pileg tahun ini. Permainananya bisa dikatakan sangat brutal dan gelap mata untuk meraih kemenangan.
Gambaran peristiwa politik yang terjadi saat ini telah menjadi bumerang politik yang memangsa korban dari kalangan mereka sendiri akibat persaingan yang tidak beretika. Sistem dibangun melalui proses legislasi. Begitu akibat kecurangan ini terjadi, mereka terperanjat sendiri bahwa sistem yang mereka bangun saat proses legislasi, hasilnya menjerat dirinya sendiri karena kalah dan tidak terpilih.
Fair play dilanggar habis. Yang ada sogok secara masif dimana-mana demi untuk menjadi anggota legislatif. Korupsi, sogok, suap dalam pileg rupanya sudah menjadi tradisi politik busuk yang dipelihara secara berjamaah oleh parpol dan para kadernya. Saat yang sama adalah kawan dan sekaligus bisa berubah menjadi predator berdarah dingin,meskipun mereka berasal dari parpol yang sama. Hukum rimba yang mereka lakukan.
Norma hukum dilanggar,azas kepatutan juga dibabat habis, yang penting menang. Dengan situasi yang seperti ini, maka para calon legislator yang terpilih, perilaku politiknya cenderung tidak akan berubah. Praktek transaksional akan cenderung bersifat laten dan akan terjadi dalam 5 tahun mendatang. ***
