Meraih Keuntungan dan Pertumbuhan Adalah Obsesi Ekonomi
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz
REALITAS yang hidup dan berkembang dalam kegiatan ekonomi di masyarakat dewasa ini adalah bagaimana menciptakan keuntungan atas usaha yang digeluti. Yang penting untung, dan ini menjadi obsesi ekonomi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Kalau tidak untung, maka kegiatan ekonomi yang ditekuninya pasti akan ditinggalkan, karena mereka memerlukan keberlanjutan usahanya di sepanjang waktu.
Dari kacamata pemerintah, yang menjadi obsesinya adalah pertumbuhan ekonomi. Sifatnya makro, sedangkan keuntungan sifatnya mikro. Keduanya bisa saja ketemu dalam satu simpul, tetapi bisa juga tidak akan pernah ketemu, karena keduanya melakukan pendekatan yang berbeda. Dalam praktik, urusan untung rugi adalah tanggung jawab para pelaku ekonomi dan pertumbuhan ekonomi pada dasarnya adalah tanggung jawab pemerintah.
Karena keduanya penting untuk menjaga keberlanjutan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di bidang ekonomi, maka agar pelaku ekonomi dan pemerintah dapat memetik hasilnya secara maksimal, keduanya harus menjalin komunikasi secara terbuka dan efektif. Masing-masing pihak tidak boleh bersikap arogan, tapi harus saling mengisi dan harus bisa saling memberikan manfaat.
Pertumbuhan ekonomi menjadi tidak berarti apa-apa kalau para pelaku ekonomi tidak pernah berhasil menciptakan keuntungannya secara memadai. Sebaliknya, sebagian keuntungan yang diraih oleh para pelaku ekonomi harus dikontribusikan kepada pemerintah/negara dalam bentuk pajak. Nilai output produksinya setelah diperhitungkan dengan nilai input-nya akan menghasilkan nilai tambah, dan ini yang akan menyebabkan pemerintah dapat menghitung nilai Produk Domestik Bruto setiap tahun.
Jika diperbandingkan tiap tahun secara time series, maka perubahannya itu yang kita ketahui sebagai pertumbuhan ekonomi. Jadi keuntungan dan pertumbuhan penting itu bagi pelaku ekonomi dan pemerintah/negara. Tanggung jawab pemerintah/negara sebagai pembuat kebijakan atau sebagai regulator dan fasilitator adalah memastikan bahwa output yang dihasilkanya akan memberikan ruang yang cukup memadai agar pelaku ekonomi dapat meraih tingkat keuntungan terbaik dan wajar.
Iklim usaha yang diciptakan, sejatinya tidak seksdar mengundang mereka para pelaku ekonomi untuk berinvestasi di negara kita.Tapi, sekaligus harus memberikan ekspektasi terbukanya peluang untuk meraih keuntungan atas investasi yang dilakukan. Para investor harus mendapatkan jaminan atas investasi yang dilakukannya agar keuntungan yang diperoleh optimal.
Selain itu, harus dapat dijamin tingkat kenyamanan dan keamanannya agar investasi berkelanjutan. Kualitas pelayanan publiknya harus efisien dan serba pasti dilihat dari aspek waktu dan biaya. Dalam rangka FTA, hal-hal semacam itu sangat diperlukan. Kita menjadi risau, takut kalah bersaing bukan karena apa-apa.Tapi lebih banyak disebabkan kita belum berhasil berbenah dengan sungguh-sungguh. Jika kita gagal berbenah, maka risikonya sudah jelas, yakni kita akan gagal mencapai apa yang telah menjadi obsesi ekonomi, bahwa pada level mikro (keuntungan) dan pertumbuhan pada level makro akan tidak maksimal dapat kita raih.
Kalaupun berhasil diraih, ongkosnya terlalu mahal. Ongkos yang mahal mengakibatkan ekonominya menjadi high cost. Akibat lebih lanjutnya adalah momen-momen baik untuk meraih keuntungan dan pertumbuhan sekaligus lewat begitu saja. Problem yang kita hadapi sebenarnya sangat sederhana. Menjadi rumit dan kompleks, karena sadar atau tidak para penguasanya di negeri ini gemar membuat kerumitan dan ketidakpastian.Tunas Bangsa sengaja menurunkan opini ini dengan cara yang sangat sederhana dalam memahami fenomena ekonomi.
Pendekatannya tidak bersifat akademis, karena tujuannya hanya sekadar untuk memberikan inspirasi dan motivasi bahwa peran elite penguasa termasuk jajaran birokrasi di tingkat pusat/daerah agar berpikir dengan cara yang sederhana dalam membuat kebijakan, regulasi, dan dalam memberikan pelayanan publik yang efektif dan efisien. ***
