Kemenperin Percepat Transformasi Industri Hijau Melalui Implementasi Ekonomi Sirkular

Loading

 

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian fokus mengembangkan subsektor industri minuman yang memiliki potensi besar dalam memacu penerapan ekonomi sirkular nasional, melalui peningkatan efisiensi sumber daya, penggunaan energi terbarukan, serta optimalisasi penggunaan kemasan plastik daur ulang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, penerapan industri hijau merupakan bagian dari strategi pembangunan industri nasional agar mampu tumbuh secara berkelanjutan serta berdaya saing di pasar global.

Menurutnya, transformasi industri tidak hanya diarahkan untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui efisiensi produksi, inovasi teknologi, dan penguatan ekonomi sirkular.

“Transformasi menuju industri hijau merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri nasional di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk yang berkelanjutan. Karena itu, penerapan ekonomi sirkular perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Menperin di Jakarta, Jumat (7/8).

Upaya percepatan transformasi industri hijau tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian yang menekankan pengembangan industri yang kompetitif, tangguh, dan berkelanjutan.

Untuk mendukung implementasinya, Kemenperin telah menyusun peta jalan dekarbonisasi industri untuk subsektor manufaktur prioritas, termasuk industri makanan dan minuman (mamin).

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menambahkan, kinerja positif  pada industri mamin perlu diiringi dengan transformasi menuju industri yang lebih efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan. “Melalui penerapan ekonomi sirkular, industri diharapkan tidak hanya mampu mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing dan memenuhi tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan,” ungkapnya.

Salah satu wujud implementasi transformasi menuju industri berkelanjutan melalui pengelolaan kemasan pasca konsumsi. Berdasarkan kajian Sustainable Waste Indonesia, secara nasional jenis plastik yang paling banyak digunakan adalah PolyPropylene (PP) sebesar 36%, Low-Density Polyethylene (LDPE) 17%, dan High-Density Polyethylene (HDPE) sebesar 14%, sementara plastik Polyethylene Terephthalate (PET) yang umum digunakan sebagai kemasan botol minuman mengambil porsi relatif lebih kecil dari total konsumsi plastik nasional yaitu sebanyak 9%. (sabar)

 

 

 

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS