Jokowi The Real King Maker
![]()

Oleh: Sutrisno Pangaribuan
MESKI sering disebut sebagai presiden yang plonga-plongo dan ndeso, ternyata Presidem Jokowi berhasil menunjukkan dirinya sebagai Presiden RI yang paling perkasa.
Semua presiden pendahulunya tidak berhasil mewariskan tongkat estafet kepada anak-anaknya. Bahkan hampir semua anak-anak mantan presiden mengalami dan melewati fase sebagai “gelandangan politik”. Para pendahulu Jokowi tidak memiliki visi kekuasaan modern. Mereka masih dengan visi lama mewariskan Parpol.
Sedangkan Jokowi, meski tidak punya Parpol, namun dia berhasil membuat semua Parpol jinak dan tunduk di hadapannya. Semua Parpol berusaha terus dekat dengan Jokowi dan anak-anaknya. Semua pimpinan Parpol selalu doyan datang ke Solo menemui Gibran, putra Jokowi yang juga Walikota Solo dan ke Medan menemui Boby, menantu Jokowi yang adalah Walikota Medan. Tujuannya hanya untuk “cari muka”.
Barangkali, hanya anak-anak Jokowi yang mendapat dukungan gratis dari Parpol saat maju di Pilkada. Bahkan semua Parpol pendukung anak-anak Jokowi kampanye dengan dana masing-.masing dengan suka rela.
Jokowi memahami perubahan politik Indonesia melampaui pemahaman para elit politik dan pimpinan Parpol. Saat elit politik sibuk bermain “presiden- presidenan”, Jokowi justru mempersiapkan calon- calon presiden sungguhan.
Sementara para elit politik sibuk bertengkar karena bertemu atau tidak bertemu dengan elit politik lainnya, namun Gibran malah susah mengatur jadwal bagi antrian elit politik yang ingin bertemu dengannya. Saat Parpol sibuk tarik menarik koalisi, Gibran dan adik-adiknya malah terpaksa mendorong muncul paslon lain agar tidak calon tunggal.
Seperti dirinya, Jokowi mempersiapkan anak- anaknya mengikuti proses yang sama mulai jadi walikota. Jokowi tidak membuat anak- anaknya jadi petinggi Parpol, atau jadi anggota DPR maupun jadi menteri. Semua anaknya dilatih merangkak mulai dari bawah jadi kepala daerah dan tidak langsung ditarik ke Jakarta agar selalu dekat dengan istana. Sikap seperti itu jauh dari kehidupan Jokowi.
Tokoh Nasional
Yang sangat menarik lagi, semua anak-anak Jokowi tidak tokoh nasional, tetapi semua tokoh nasional datang sowan ke anak-anaknya. Tidak tokoh nasional, tetapi jadi bahan berita nasional dan selalu tampil di layar kaca berita nasional.
Jika akhirnya “Sang Menang”, sesuai tagline PSI untuk Kaesang akhirnya maju dan menang di Pilkada Depok 2024, maka Jokowi memiliki tiga orang anak yang siap menerima tongkat estafet kepemimpinan nasional berikutnya.
Ketiganya akan siap menjadi calon gubernur hingga calon presiden berikutnya. Saat para elit dan pimpinan Parpol yang polos akan datang dengan stempel hanya menjadi “tim sukses” pengusung dan pendukung. Saat para aktivis yang lugu hanya akan bermimpi untuk jadi komisaris.
Bisa kita uraikan salah satu contoh pentingnya menemui putra Jokowi. Lihat tuh Prabowo Subianto. Sebelum Menhan RI yang adalah Capres Partai Gerindra itu menemui SBY, dia lebih dulu menghadap Gibran Rakabuming Raka. Dalam pertemuan itu, Gibran menyuguhkan wedang plus deklarasi relawan Jokowi- Gibran se- Jawa Tengah dan se- Jawa Timur buat Prabowo.
Putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep juga sedang ramai diperbincangkan pasca gambar wajahnya terpampang di jalanan kota Depok. PSI yang berinisiatif menjual Kaesang untuk maju sebagai walikota, diperkuat oleh Raja Juli Antoni, Wakil Menteri ATR/ BPN, elit PSI yang baru saja menghadap Jokowi. Juli menyebut, tujuannya ke istana untuk melaporkan rencana PSI untuk mengusung Kaesang menjadi Depok pertama.
Ganjar Pranowo juga ketika mengunjungi Medan tetap memilih naik semobil dengan Walikota Medan, Bobby Nasution. Ganjar terlihat nyaman bersama suami Kahiyang Ayu itu hingga sepanjang waktu selama di Medan, Ganjar dikawal walikota.
Pusat Negosiasi
Meski semula Jokowi mengaku tidak akan ikut campur soal siapa nama penerusnya, akhirnya Jokowi atas nama kepentingan bangsa dan negara memutuskan akan cawe- cawe. Seketika istilah cawe- cawe dibahas ramai- ramai dan menjadi trending topic. Mulai dari pakar, pengamat, hingga aktor poltik dan ahli semantik ikut bereaksi membahas istilah cawe-cawe.
Jokowi dan keluarganya menjadi pusat negosiasi politik saat ini dan ke depan. Meskipun para pengamat politik menyebut semua Capres diendorse Jokowi, yang terjadi justru semua Capres berharap mendapat endorse dari Gibran. Anies Rasyid Baswedan sebagai Capres antitesa Jokowi saja datang ke Solo untuk sekedar minum kopi dengan Gibran.
Jokowi berhasil memainkan peran mengelola para elit politik, baik para pimpinan Parpol dan para Capres. Semuanya terlihat polos dan lugu di hadapan Jokowi. Hingga saat ini, tidak ada satu Capres pun yang haqqul yakin telah dan akan didukung Jokowi. Bahkan kelompok relawan yang kerap memaksa Jokowi sehingga membuat marah Parpol kini mengaku tegak lurus dan menunggu arahan Jokowi. (Penulis adalah Presidium Kongres Rakyat Nasional-Kornas, yinggal di Jakarta)
