Harga-harga Melambung Menjelang Puasa
![]()
Oleh: Anthon P. Sinaga
PADA masa hangat pemilihan kepala daerah (Pilkada) di DKI Jakarta pada minggu kedua Juli ini, harga-harga barang-barang kebutuhan masyarakat juga terus melambung. Hal ini seolah-olah menjadi kebiasaan, berkaitan dengan makin dekatnya bulan Ramadan. Mendekati bulan puasa, biasanya para pedagang menaikkan harga-harga. Alasannya, permintaan meningkat, sementara pasokan barang dari sumber produksi menurun. Hal ini jelas menjadi beban yang berat setiap tahun, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap.
Harga beras, gula, daging yang menjadi konsumsi penting setiap hari terus melambung. Demikian pula harga telur, minyak goreng, dan bahan bumbu seperti bawang, cabai, tomat dll terus mengikut. Pembelian barang-barang kebutuhan pokok ini tidak mungkin dihentikan atau dikurangi. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terpaksalah uang tabungan dibelanjakan, atau mungkin harus mencari uang pinjaman.
Menurut data harga-harga di sejumlah pasar di Jakarta pada minggu kedua Juli, sebagai contoh, harga daging sapi berkisar antara Rp70.000 sampai Rp85.000 per kg, dari sebelumnya hanya berkisar Rp65.000 per kg. Harga ayam potong antara Rp28.000 hingga Rp30.000 per ekor, dari sebelumnya hanya berkisar Rp25.000 per ekor. Sedangkan harga telur antara Rp20.000 hingga Rp21.000 per kg, dari sebelumnya hanya berkisar Rp18.000 per kg. Harga gula pasir dari Rp12.000 naik menjadi Rp13.000-Rp14.000 per kg dan minyak goreng curah dari Rp5.000 naik menjadi Rp6.000 per liter.Harga-harga ini akan terus bertahan dan bahkan cenderung menaik hingga menjelang Hari Raya Idulfitri pada minggu ketiga Agustus nanti.
Hal inilah yang terus membuat penderitaan bagi sebagian besar rakyat, karena tidak dapat membuat perencanaan hidup yang baik dan stabil. Pendapatan belum bisa mencapai standar hidup yang layak, sementara harga-harga barang kebutuhan pokok sehari-hari tidak bisa terkendali. Belum lagi harga barang-barang keperluan keluarga dan rumah tangga yang terus meningkat, mengikuti inflasi dan tingkat keuntungan yang diharapkan pedagang.
Sebenarnya kalau ditelisik, kenaikan harga-harga ini patut dipertanyakan. Baru-baru ini pemerintah sudah menyetujui pemberian izin impor daging sapi segar sebanyak 8.300 ton guna menambah pasokan daging untuk keperluan dalam negeri. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Dedy Saleh mengatakan pekan lalu di Jakarta, masyarakat tidak perlu khawatir kelangkaan daging selama puasa dan Lebaran. Kalau persediaan cukup, tentu tidak ada gejolak harga. Lalu mengapa harga daging terus melambung di pasaran, itulah yang dipertanyakan masyarakat.
Demikian pula harga gula. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melihat kenaikan harga gula pada musim giling sekarang ini, sangat tidak wajar, sampai Rp14.000 per kg. Menurut Ketua KPPU, Tadjuddin Noer Said, pekan lalu, pihaknya selalu terhalang meneliti kenaikan harga gula karena hal itu selalu dikaitkan dengan upaya menyejahterakan petani tebu. Bila naik 10 persen masih wajar, tetapi kenaikan kali ini sangat tinggi, ditengarai ada pihak-pihak yang sangat diuntungkan. “Selama ini ada dalih kepentingan petani, padahal yang mendapat keuntungan adalah pedagang,” katanya.
Peranan Bulog
Berbagai komoditas yang terkait dengan kebutuhan pokok masyarakat banyak, saharusnya ada penangan yang baik dari pemerintah. Pembentukan Badan Urusan Logisitik (Bulog) oleh negara, adalah bertujuan untuk melindungi dan menjamin ketersediaan bahan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Kalau sembako tidak ditangani dengan baik, masyarakat akan menjadi korban persekongkolan pedagang. Dalam keadaan ada kenaikan harga yang tidak wajar, Bulog seharusnya turun tangan untuk mengendalikan, sehingga masyarakat merasakan peranannya.
Seperti contoh harga gula sekarang ini, KPPU menengarai ada persekongkolan menentukan harga oleh pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan. Pihak KPPU mengakui dari data yang ada sudah cukup untuk menentukan ada pelanggaran persaingan usaha. Namun, pihaknya masih akan melakukan penelitian tambahan, mulai dari pemberian izin impor hingga manipulasi impor oleh dua perusahaan yang diizinkan oleh pemerintah.
Seharusnya, masyarakat menjalani puasa dengan khusyuk, tidak diganggu oleh pikiran harga-harga barang yang melambung. Khusus untuk Jakarta, adakah pemimpin baru nanti bisa membuat hatri rakyatnya tenang dan nyaman? Apakah Jokowi-Ahok atau Foke-Narta. Kita tunggu 20 September nanti. ***
