Elite Politik dan Politik Uang
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz
SUDAH jamak di negeri ini kalangan elite politik melakukan politik uang untuk meraih kekuasaan. Politik uang adalah alat “perjuangan” diri pribadi sosok elite politik di negeri ini untuk bisa menjadi anggota DPR atau menjadi kepala daerah. Partai ibaratnya hanya sebuah rumah kos dan para pimpinan partai pada dasarnya induk semangnya. Akibatnya hubungan antara anak kos dan induk semang pada hakikatnya adalah hubungan yang bersifat transaksional.
Bagaimana si anak kos mencari dana untuk kepentingan dirinya untuk nyaleg pada dasarnya menjadi tanggung jawab dirinya. Induk semang pasti akan menerima imbalan atas hadirnya seseorang yang tinggal di rumah kosan miliknya (partai). Lebih dari sekadar anak kos, jika yang bersangkutan punya relasi dengan orang-orang penting di negeri ini, maka si induk semang tidak sungkan-sungkan meminta tolong kepada anak kosnya untuk mencarikan tambahan pendapatan untuk kepentingan partai, syukur-syukur ada kelebihan yang bisa masuk ke kantong pribadi si induk semang.
Begitulah secara ilustratif gambaran tentang perilaku elite politik dan politik uang yang nilai kejuangannya benar-benar transaksional. Etikanya buruk sekali. Idiologinya hanya uang. Lima belas tahun hidup di alam demokrasi, kepada kita hanya dipertontonkan cara berpolitik yang tidak memberikan manfaat bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Rakyat yang sudah tahu dengan perilaku buruk para elite politik bersikap masa bodoh. Buktinya angka golput rata-rata tinggi di beberapa pilgub.
Pada pileg dan pilpres tahun 2014 sangat berpotensi jumlah golputnya akan besar. Praktik politik uang akan tetap berkibar dan para penerimanya tidak sertamerta akan memberikan dukungan suara kepada calon yang bersangkutan. Mereka berpikirnya adalah bahwa musim pileg/pilpres/pilgub/pilbup/pilwakot/ adalah musim panen raya. Ada yang kasih duit,lumayan buat beli rokok. Soal nyoblos, emangnya gue pikirin, kenal saja kagak.
Mau nyoblos atau tidak nyoblos, suka-suka gue. Akhirnya kita dapat katakan bahwa elite politik yang gemar melakukan politik uang adalah orang-orang pintar dan terpandang, tapi sesungguhnya orang-orang bodoh. Lebih bodoh dari orang-orang yang diberi uang. Buktinya, mereka sudah pandai ngerjain para elite politik yang datang sekali dua kali, habis itu menghilang. Ngapain ketemu orang seperti itu, datang memberi uang, tapi ada maunya.
Menjalin hubungan hanya di kala perlu. Kita tidak butuh sosok caleg yang hanya menempatkan rakyat sebagai objek sampingan. Negeri ini akan bisa bangkrut dan menjadi negara yang gagal melaksanakan demokrasi kalau perilaku kalangan elitenya tidak bermoral dan etikanya buruk, karena mereka adalah orang-orang hebat, terpandang, tapi hidupnya dari persusuan terus. Disusui dari uang suap, sogok, dan KKN. Mereka bukan tokoh pembawa panji-panji demokrasi yang tulen.Tapi, mereka pelacur politik yang gemar melakukan masturbasi politik untuk memuaskan dirinya sendiri.
Tahun 2014 akan terjadi peristiwa politik, tapi bukan pesta demokrasi. Karena yang akan kita lihat adalah pesta kasak-kusuk para elite politik yang akan melakukan operasi senyap dan bisik-bisik sambil bagi-bagi uang panas agar dia didukung sebagai caleg. Kalau kita berpikir pesimistis, maka di negeri ini tidak akan terjadi perubahan yang berarti dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara sesudah pemilu 2014, karena sebagian besar tokoh lama masih nyaleg lagi yang pola pikir dan pola tindaknya tidak akan banyak berubah.
Mereka bukan tokoh perubahan atau para pembaru, tapi sebagian adventure politik yang passion politiknya tidak ada, kecuali hanya uang yang menjadi ideologinya. Di luar rasa pesimisme yang mendalam, maka sebagai warga negara tetap menaruh harapan agar kehidupan demokrasi di negeri ini tidak dijadikan tempat penjarahan, tapi benar-benar dapat membawa negeri ini gemah ripah, rakyatnya sejahtera dan makmur.
Partai harus punya ideologi yang jelas dan partai bukan hanya menjadi asrama atau rumah kos yang hanya sekadar untuk “memutar uang” hasil kegiatan yang bersifat underground. ***
