Denny; Bagi Saya Fatimah adalah Harapan, Gibran Merusak !

Loading

 

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pakar Hukum Tata Negara Denny Indrayana kembali menyurati Presiden Prabowo Subianto. Dia menyebut Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fathimah Azzahra sebagai harapan Indonesia.

Denny mengaku terkesan dengan sikap kritis Fathimah terhadap kekuasaan dan semangat nasionalismenya.

“Fathimah saya tidak mengenalnya. Kami tidak pernah bertemu. Tapi hari-hari ini saya melihat kami bersatu dalam semangat perlawanannya. Dalam sikap kritisnya ketika berhadapan dengan kekuasaan,” tulis Denny dalam suratnya, dikutip Kamis (20/8/2026).

Denny mengatakan dirinya tidak mempersoalkan latar belakang seseorang dalam melihat kecintaannya terhadap Indonesia.

“Saya sendiri ayah dari Sunda, ibu Banjar, nenek saya dari ayah adalah Tionghoa. Ketika ditanya dari mana berasal, jawaban saya selalu: Indonesia,” tulisnya.

Menurut Denny, semangat yang ditunjukkan Fathimah dalam menyampaikan kritik menjadi alasan dirinya memberikan apresiasi. Ia bahkan membandingkannya dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Bagi saya Fathimah adalah harapan. Gibran tidak,” ucap Denny.

Denny mengaku sengaja menyampaikan pernyataan tersebut secara terbuka meski mendapat masukan agar lebih diplomatis. Ia menilai pesan moral akan lebih mudah disampaikan jika dikemukakan secara apa adanya.

“Maafkan saya menyatakan apa adanya. Banyak yang menasehati saya untuk lebih diplomatis. Tapi saya rasa berbicara apa adanya akan lebih sampai pesan moralnya,” ujarnya.

Fatimah Tulus, Gibran Merusak

Denny menilai Fathimah menunjukkan semangat memperjuangkan Indonesia. Ia menyebut artikel Fatimah memberikan gambaran mengenai nasionalisme yang menurutnya tulus.

“Fatimah memperjuangkan Indonesia, Gibran bin Jokowi justru merusaknya. Membaca artikel “Bangsaku” dari Fathimah memberikan siraman air segar nasionalisme ke dalam tenggorokan kering kami,” kata Denny.

Dia juga membandingkan orasi Fathimah dengan pidato Prabowo. Menurut Denny, orasi mahasiswa tersebut justru memberikan energi perjuangan yang lebih kuat baginya.

“Mendengar beberapa menit Fathimah dengan orasinya, saya rasakan lebih punya kekuatan perjuangan dibandingkan pidato berjam-jam Presiden Prabowo yang cenderung membosankan dan tidak jarang salah hitung penjumlahan, atau salah baca angka, hingga menjadikan pengupas bawang menjadi orang kaya baru di Indonesia,” tulisnya.

Denny kemudian mempertanyakan mengapa pesan tentang kecintaan terhadap Indonesia dapat diterima berbeda ketika disampaikan oleh Fathimah dan pemerintah. Ia mengaitkannya dengan ketulusan dan niat dalam menyampaikan pesan.

“Mengapa ada rasa berbeda, meski pesannya sama, tentang cinta Indonesia?” kata Denny.

Menurut Denny, ketulusan tersebut tercermin dalam sikap Fathimah ketika menyuarakan isu antikorupsi. Ia menyebut perjuangan tersebut berkaitan dengan sejumlah persoalan yang dinilainya menyangkut kepentingan bangsa.

Fatimah Berjuang untuk Indonesia

“Jadi ketika Fathimah menyampaikan teriakannya, yang kita dengar adalah perjuangan yang tulus tentang Indonesia antikorupsi. Tentang bangsa yang berjuang untuk bersih dari keculasan pemilu, dari kecurangan pengadaan alutsista dan dari korupsi gizi dan koperasi,” ucapnya.

Denny menilai kejujuran dan konsistensi menjadi kunci dalam membangun kepercayaan publik. Menurutnya, pesan politik akan kehilangan kekuatan jika tidak sejalan dengan tindakan.

Ia kemudian kembali menyinggung dokumen pendidikan Gibran yang selama ini menjadi polemik. Denny menggunakan isu tersebut untuk mempertanyakan konsistensi dan transparansi dalam kehidupan politik.

“Sebagaimana ijazah SMA atau setara Mas Gibran yang gaib bin raib hingga kini,” tulisnya.(sabar)

 

 

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS