Bila Semua Bisa Masuk…
![]()
Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi
HARI-hari terakhir ini kita disuguhi berbagai berita tentang gagalnya Lady Gaga manggung di Indonesia dan para pendukungnya dirundung kekecewaan, marah dan sinis campur aduk. Di sisi lain, korupsi Hambalang makin menguak berbagai situasi yang semula penuh kegelapan dan misteri.
Malingnya tak ada yang mau ngaku, malah berani menantang. Sayangnya tidak berteriak nantang ngajak taruhan. Peristiwa yang lain lagi adalah soal krisis Zona Eropa dan AS, para ahli nujum ekonomi dunia, regional dan lokal, mengatakan tenang-tenang, tidak perlu cemas dan khawatir, angin puyuhnya nggak akan sampai ke Indonesia.
Fundamental ekonomi kita kan kuat. Sekali lagi tenang, ojo grusa grusu, lan ojo ke susu, mundak gampang nesu. Eh… sekarang berkata, waduh rupanya merembes juga angin puyuhnya ke Indonesia. Kemudian keluar fatwa pujangga ekonominya dan berkata waspodo, eling lan emut, sing ati2 lan sing sabar.
Ojo podo boros. Mangan sepiring berdua bilamana perlu. Begitulah ilustrasi sekilas tentang kehidupan di zaman sekarang. Zaman keterbukaan, zaman hidup di negara yang demokratis, hidup di zaman globalisasi dan bahkan ada yang mengatakan hidup di zaman edan, gendeng rodo kentir dikit.
Apa cukup hanya perlu eling lan waspodo atau perlu ada tindakan lain yang lebih jelas dan terukur. Perlu dong…, jawabannya serentak. Hidup ini bak air mengalir, kata orang bijak. Tapi kalau mengalir terus, rak suwe-suwe entek banyune muspro ora kanggo guno. Apalagi mendatangkan banjir, maka perlu dibendung agar bermanfaat bagi kehidupan.
Indonesia ini, negeri dengan banyak jendela dari NAD sampai Papua. Tapi jendelanya nggak pernah ditutup malah dibiarkan ngablak sepanjang waktu, pagi, siang dan malam. Apa saja masuk, atau dengan sengaja disuruh masuk. Biar ada penjaga pintu, tetap saja bisa masuk, duren bangkok, ayam bangkok, istri bangkok, mlebu kabeh.
Sandal bekas, besi rongsokan, baju bekas, kasur bekas, mobil bekas, bus bekas, truk bekas dan mesin bekas, semua boleh masuk. Kayak orang rakus. Film, musik dan gaya hidup, semua bisa masuk.
Lantas mau apa kita kalau sudah begitu? Ayo podo mikir lan kerjo bareng-bareng, gotong royong gitu nggawe bendungan sing apik ben kabeh ora mlebu metu sak enake dewe. Jendelanya jangan dibiarkan ngablak dan nggak pernah ditutup. Sekali-kali ya ditutuplah, sesekali juga dibuka supaya sirkulasi udaranya bagus keluar masuknya.
Angin duduk, angin malam perlu dikontrol sebab bisa membawa penyakit kalau dia berkeliaran. Nyamuk, setan belis, maling serta perampok perlu diusir. Apalagi maling beras, jagung, manggis, sayur-sayuran, batubara, nikel, emas dan juga tembaga dijagain baik-baik. Ojo diobral.
Entar kalau habis, kita gigit jari dan meringis kuda bahkan nggak kebagian apa-apa kecuali ampas dan kotoran. Dampak globalisasi tentu beragam bentuk dan sifatnya, ada yang baik ada yang jelek, ada yang positif ada juga negatif, ada yang konsumtif ada yang produktif.
Simbah yang arif dan bijaksana berkata, kalau yang serba baik dan positif bagi kehidupan kita, bolehlah kita pakai, tapi yang jelek dan negatif yo kudu dibuang jauh-jauh, nanti bisa merusak. Dengan demikian, negeri ini harus membuat filter/saringan agar dampak globalisasi yang serba negatif tersebut, tidak masuk seenaknya, sembarang dibebaskan, masuk koyo nang omahe dewe.
Ora elok to yo, mesti nganggo totokromo, betul nggak pakde? “Yo to le”, jawab pakde sigap. Kabeh melu mikir dan bertindak sesuai tanggungjawab masing-masing. Pemerintah dan legislatif bertugas membuat regulasi, produk hukum. Regulasi yang bersifat magari, bisa menjadi filter yang ampuh agar dampak negatif globalisasi tercegah dan tidak masuk dengan bebas.
Jangan mata duitan kalau membuat aturan. Nanti masuk angin, wes ewes ewes.. bablas angine. Jangan takut digertak, baik oleh WTO maupun IMF. Aturan WTO dan kebijakan IMF itu tidak semuanya baik dan obyektif. Ada yang punya mau di balik aturan WTO dan kebijakan IMF.
Mau apa? ya “merampok” tapi ngumpet di balik aturan tersebut. Pak Gita, Pak Hidayat dan Pak Jero jangan takut dengan gertakan Jepang yang mau mem-WTO-kan aturan kita tentang Bea Keluar hasil tambang dan mineral. Dia kan maunya kita “mati” atau paling tidak menjadi tergantung pada dia. Enak saja mau enaknya sendiri. Seduluran lan urip bebrayan sih bagus-bagus saja.
Masyarakat, guru, dosen, kiai, romo pastur, biksu dan orang tua juga harus pandai-pandai membuat filter agar kita, anak-anak kita tidak menjadi “korban” dari dampak globalisasi yang bersifat destruktif. Jadi membuat pagar, membuat filter itu penting dan harus kita kerjakan masing-masing.
Nggak bisa pasrah bongkokan semua menyerhakannya kepada pemerintah, legislator para tokoh, guru, dosen saja untuk membuatnya. Harus ada yang membuat aturan, menjadi kiper, menjadi wasit, menjadi pengawas pertandingan, ada jadi back,jadi gelandang dan menjadi striker. Semuanya kompak dan bersatu ,jangan mudah diadu domba,dan yang rukun. Ojo padu terus.***
