Sadar dan Ikhlas Menjalankan Kehidupan
![]()
Oleh: Dwija Wara

Ilustrasi
MENJALANKAN kehidupan pada era globalisasi seperti saat ini akan terasa berat, apabila tidak dilandasi dengan sadar dan ikhlas menjalaninya. Yang dimaksud dengan sadar ialah sadar terhadap adanya Tuhan, sadar terhadap kebesaran Tuhan, dan sadar terhadap kewajiban-kewajiban umat manusia terhadap-Nya.
Kita harus sadar bahwa Tuhan itu ada, seperti sadar akan adanya alam semesta seisinya ini; kita harus sadar akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, bahwa seluruh alam beserta isinya ini ada di tangan Tuhan, kita harus sadar, bahwa kewajiban umat manusia adalah menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Oleh karenanya, bahagialah barang siapa yang selalu sadar, dan celakalah barang siapa yang lupa (tidak sadar).
Orang yang selalu sadar merasa selalu dekat kepada Tuhan, sebab itu ia takut berbuat jahat, dan ingin selalu berbuat kebaikan. Orang yang selalu ingat kepada Tuhan akan selalu mendapat perlindungan, dengan demikian ia akan selalu terjamin keselamatannya. Orang yang selalu ingat kepada Tuhan tidak pernah mengalami kebingungan dalam melaksanakan kehidupannya, sebab ia selalu medapat hidayah Tuhan.
Orang yang selalu sadar, hatinya selalu merasa tenteram dan bahagia, sebab hatinya tidak akan terombang-ambing oleh rasa senang-susah, kecewa-iri, sakit hati, marah; ia mengetahui rahasia kehidupan dan dapat menguasainya, hanya karena sadar atau ingat kepada Tuhan. Jika ia kehilangan sesuatu, ia akan rela, sebab ia sadar, bahwa segala isi alam ini adalah kepunyaan Tuhan.
Jika ia sedang tertimpa sesuatu penderitaan, ia akan sabar dan tahan uji, sebab ia sadar, bahwa segala penderitaan itu adalah akibat perbuatannya sendiri juga. Jika ia kebetulan mendapat kebahagiaan, ia tidak akan lupa daratan, ia sadar, bahwa semuanya itu barang pinjaman dan hanya sementara waktu saja.
Orang yang selalu ingat terhadap Tuhan cita-citanya yang sesuai dengan kehendak Tuhan akan tercapai, kehendaknya akan terkabul, sebab ia selalu dapat berhubungan dengan Tuhan.
Tanda-tanda, bahwa orang sedang tidak sadar ialah ketika ia mabuk, asyik menikmati sesuatu, misalnya: berjudi; orang yang sedang marah, sedang terlalu gembira, sedang menderita kesedihan. Jadi, sedapat mungkin kita harus membatasi diri dalam segala hal, jangan sampai kesadaran kita hilang; kita boleh saja bersuka ria, bersenang-senang dan gemar pada sesuatu, asal tidak melampaui batas, maksudnya sampai mengaburkan kesadaran kita terhadap Tuhan. Ketika seorang marah, mabuk, gila, ia tidak dapat membatasi diri, maka hal itu harus dicegah.
Jika orang benar-benar sadar kepada Tuhan, hatinya akan tenteram, terhindar dari segala persoalan hidup, tidak terpengaruh oleh pasang surutnya keadaan, ia akan selalu merasa bahagia sampai di alam akhir. Karenanya: marilah kita membiasakan diri agar selalu sadar, baik dalam waktu bagaimana pun juga; jadi tidak saja jikalau kita sedang sembahyang atau berdoa; waktu makan, tidur, berpesta ria, waktu senang maupun susah, pendek kata setiap saat, kita tidak boleh lupa kepada Tuhan.
Sedangkan yang dimaksud dengan ikhlas adalah perasaan tenang saat melepaskan apa saja barang kepunyaannya, apabila harus terjadi. Begitu ikhlasnya seperti pada waktu kita akan menghembuskan nafas kita, tidak terlintas sedikit pun rasa berat melepasnya, meskipun barang yang kita lepaskan itu adalah kesayangan kita.
Ikhlas, adalah kunci surga, atau suatu senjata yang ampuh pada waktu orang di dalam keadaan perang dalam waktu sakaratilmaut. Pada saat yang mahagawat itu kita harus dapat mengikhlaskan segala kepunyaan kita di dunia, sedikit pun tidak boleh terlintas pada angan-angan kita rasa tidak ikhlas,sebab begitu terlintas pada angan-angan kita rasa berat atau tidak rela, begitu kita jatuh tergelincir ke dalam alam kegelapan atau kesengsaraan, di mana kita akan mendapat penderitaan. Jadi, tidaklah keliru, orang yang menganggap, bahwa rela adalah kunci pembuka pintu surga, setelah syarat-syarat lainnya kita cukupi.
Orang yang tidak ikhlas, berarti mengingkari keadilan Tuhan, menentang kodrat alam, ia tidak mengakui dan protes terhadap kebijaksanaan Tuhan. Apakah ini mungkin? Ia tidak mau sadar, tidak mau insaf, dan tidakkah kita ingat, bahwa suatu kejadian yang menimpa diri seseorang itu berasal dari buah perbuatannya sendiri? Jika seseorang sesudah mengerti akan hal itu, akan tetapi masih saja tidak ikhlas, masih saja menggerutu, ya terserahlah, silahkan terus menggerutu, karena rasa tidak ikhlas berarti ia akan terus menderita, akan terus berada di dalam kegelapan. Jika memang ingin begitu, ya silahkan.
Jadi, jelaslah bahwa melatih memiliki rasa ikhlas penting sekali bagi kehidupan kita; tidak ikhlas berarti juga tidak sadar, seperti uraian saya tersebut di atas. Sekarang soalnya, bagaimanakah kita dapat melatih diri agar supaya kita selalu ikhlas.
Pertama kita harus sadar, bahwa semua isi alam semesta ini, termasuk diri kita ini, adalah kepunyaan dan dalam kekuasaan Tuhan. Sewaktu-waktu, setiap detik, jika Tuhan menghendakinya, pada detik itu juga terlaksanalah. Kita tidak dapat menangguhkan sedetik pun, apalagi menggagalkannya, sebab kita belum (tidak) ikhlas.
Oleh karena itu, apakah perlunya kita tidak ikhlas, yang jelas hati yang tidak tulus akan menyeret kita ke dalam lembah kegelapan, jika rasa tidak ikhlas masih saja melekat pada kita sampai saat berakhirnya hidup kita, di mana kita harus memilih dengan cepat dantepat, maka pintu neraka yang akan kita masuki.
Kedua Kita harus sadar, bahwa segala macam benda di dunia ini (termasuk anak-istri kita), hanya berguna selama kita masih hidup di dunia ini. Benda-benda itu dapat menyenangkan hati kita, dapat menghibur hati kita, dapat membanggakan hati kita, dapat memuaskan hati kita, dapat menyebabkan diri kita menjadi terhormat atau dipuja-puja, dan lain-lainnya, hanya selama kita masih hidup, hanya selama pancaindra kita masih dapat bekerja.
Tetapi setelah kita meninggalkan dunia ini, semua itu tidak ada artinya lagi. Itu semua hanya “makanan” pancaindra kita, yang sudah kita tinggalkan di dunia. Jadi, terang tidak ada perlunya kita tidak ikhlas melepaskan segala macam kepunyaan (menurut pengakuan) pada waktu akan meninggal dunia.
Ketiga Kita wajib membiasakan setiap hari berbuat baik dengan tulus untuk menipiskan rasa “aku/ego” dan selalu sadar. ***
