Pusat Pengembangan Kebijaksanaan
![]()
Oleh: Fauzi Azis

Fauzi Azis
SUPAYA tidak salah mengerti, perlu diberikan catatan kecil bahwa apa yang akan menjadi pembahasan disini bukan soal kebijakan (policy), tetapi adalah kebijaksanaan (kearifan atau wisdom). Dengan demikian, kalau judul tulisan ini disebut sebagai “Pusat Pengembangan Kebijaksanaan”, maka di dalamnya dikandung maksud sebuah pengertian bahwa negara atau masyarakat perlu membangun sebuah sistem pendidikan dan pelatihan yang tujuan utamanya mempersiapkan seseorang agar dapat mengembangkan kehidupannya menjadi orang yang selalu bijaksana /arif dalam pola pikir dan pola tindaknya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Semacam center of excelent for wisdom development. Lontaran pemikiran ini mungkin mengada-ada, tapi dilihat dari kebutuhan, barangkali progam semacam ini sangat diperlukan. Apalagi tatkala hedonisme dan konsumerisme, pragtisme dan transaksional berkecambah membentuk kepribadian seseorang atau sekelompok orang di dalam kesehariannya.
Bayt Al Hikmah begitu kira-kira/rumah/gedung kebijaksanaan. Idealnya adalah seperti ini, sehingga siapapun kita apakah di rumah sendiri, di kantor ataupun di tempat kerumunan, sikap pola pikir dan pola tindak kita selalu menonjol nilai kearifannya, santun tutur katanya, bersahaja penampilannya, tidak pernah menyakiti orang lain, penolong, penyabar dan berilmu, serta memiliki sikap tenggang rasa dan saling pengertian yang tinggi.
Rasa-rasanya belum pernah ada sekolahannya di negara ini, tapi sekali lagi progam pendidikan dan pelatihan ini sangat dibutuhkan. Kalau lulusan dari progam ini menjadi pemimpin dari hanya sekedar seorang pemimpin rumah tangga sampai menjadi seorang kepala negara, maka dia adalah seorang pemimpin yang bijaksana.
Sebagai contoh konkret, sosok Harun Al Rasyid adalah salah satu tokoh pemimpin bijaksana. Dia sangat mencintai rakyatnya dan dia memperlakukan mereka semua seperti anak-anaknya sendiri tanpa pandang bulu. Dia berhasil membangun Bagdad sehingga kota ini menjadi paling hebat saat itu.
Di malam hari ketika semua kegiatan pemerintahan sudah selesai, Harun Al Rashid suka keluar dengan diam-diam menyamar dengan pakaian biasa tanpa pengawalan untuk melihat kehidupan rakyatnya. Dia melakukan dialog bersama rakyatnya yang dikunjungi, sambil menanyakan tanpa basa-basi penuh persaudaraan, apakah aku telah memberikan yang terbaik kepada mereka.
Dengan cara seperti itu, Al Rashid sang pemimpin menjadi banyak tahu tentang maslah yang sebenarnya dihadapi rakyatnya. Inilah sekedar contoh sebuah nilai kebijaksanaan yang dapat kita ambil dari sosok Harun Al Rashid.
Dari contoh ini, kita dapat mengambil satu pelajaran bahwa kebijaksanaan adalah salah satu sikap positif yang perlu untuk kita contoh bagaimana sebuah informasi berharga dapat kita peroleh dan kemudian bisa menjadi acuan bagi proses pengambilan keputusan penting yang akan diambilnya.
Begitu indah dan agungnya sikap bijaksana bila dapat bersemi dalam setiap kehidupan seseorang, sampai-sampai andaikata-pun orang lain adalah “musuh”, diapun akan menjadi respek dan hormat. Inilah keunggulan sosok dari seseorang yang mampu mengelola kehidupannya dengan penuh kearifan.
Kita belajar politik tidak membuat orang bijaksana, malah hanya membuat orang pandai “bersilat lidah” saja. Belajar ekonomi juga demikian bahkan cenderung bisa menghasilkan sikap eksploitatif dan eksploratif. Mendalami ilmu filsafat, kebudayaan, matematika atau ilmu-ilmu yang lain tidak menjamin dapat membentuk kepribadian seseorang menjadi matang dan bijaksana.
Menjadi orang cerdas mungkin ya, sekedar mengusai ilmu pengetahuan ya juga, tapi menjadi bijaksana, hanya rumput yang bergoyang barangkali yang dapat menjawabnya. Lepas dari itu kita pasti butuh dan suka kalau kita berhasil menjadi orang, menjadi ketua RT atau pemimpin tertinggi dalam satu negara memiliki rasa kebijaksanaan.
Esensi dasar tentang pentingnya kebijaksanaan itu sebenarnya sudah dalam Panca Sila, yakni sila keempat yang berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Namun prakteknya belum bisa terwujud. Yang kita saksikan di parlemen adalah otot-ototan, eyel-eyelan dan bahkan suka berlebihan sikapnya sehingga mendatangkan amarah, tidak simpatik dan ujung-ujungnya berantem.
Hal ini berarti pikiran untuk melahirkan sebuah “Pusat Pengembangan Kebijaksanaan” menjadi penting dan mendesak. Konsepnya seperti apa, mari kita bahas, metodologinya bagaimana dan seperti apa juga bisa didiskusikan. Yang pasti pendidikan dan pelatihannya harus dimulai sejak usia dini sampai menjadi orang dewasa.
ebagai pemicunya barangkali ilmu tentang kebijaksanaan itu merupakan proses perpaduan atau akuisisi berbagai disiplin ilmu, dioplos menjadi satu menjadi sebuah ilmu kebijaksanaan. Ilmu agama, ilmu sosiologi, antropologi, filsafat, kebudayaan, psychologi dan ilmu komunikasi serta ilmu sejarah bisa menjadi sumber utamanya untuk melahirkan ilmu baru tentang kebijaksanaan.
Karena kebutuhannya ada, maka mendirikan” Pusat Pengembangan Kebijaksanaan”.meskipun terkesan diada-adakan sepertinya patut dipertimbangkan, sebab kalau kita sudah bisa menjadi orang yang bijaksana, bisa dianggap hidup, kita ini telah paripurna.
Miskin bijaksana, kaya bijaksana, menjadi rakyat biasa tapi bijaksana, menjadi anggota parlemen bijaksana dan menjadi pemimpin, harus juga bijaksana. Tapi perlu dicatat kata bijaksana tersebut jangan difahami negatif, misalnya demi membantu pihak lain boleh melanggar aturan, bukan yang seperti itu maksudnya.. ***
