Pertelevisian Indonesia Munculkan ‘Agama’ Baru
![]()
Laporan: Redaksi

Ilustrasi
YOGYAKARTA, (Tubas) – Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Dr Yudhariksawan SH, menilai pertelevisian nasional saat ini belum memiliki sumbangan yang berarti dalam ikut memotivasi dan mengembangkan kehidupan beragama yang rasional dan humanis di kalangan masyarakat.
Penilaian itu disampaikannya di depan forum diskusi publik “Peran Lembaga Penyiaran Televisi dalam Mempromosikan Kehidupan Beragama yang Rasional dan Humanis di Indonesia”, di Gedung Pusat Administrasi Univeristas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, pekan lalu.
Yudhariksawan menilai, pertelevisian Indonesia sekarang ini justru telah memunculkan ‘agama’ baru bagi masyarakat luas yang menyederhanakan makna kehidupan. “Masyarakat memang tertib melakukan ritual-ritual agama, tetapi televisi telah membuat masyarakat mempertuhankan kebendaan,” ungkapnya.
Di depan diskusi publik yang digelar bersama UIN Sunan Kalijaga dan LPP TVRI tersebut, Yudhariksawan menegaskan jika dewasa ini lembaga pertelevisian swasta telah dikuasai kapitalisme. “Mereka berlomba-lomba membuat produksi siaran semata hanya untuk mengejar rating. Karena semakin tinggi rating, suatu program televisi akan banyak mendatangkan iklan,” katanya.
Akhirnya, kata Yudhariksawan siaran-siaran yang bermisi dakwah pun ikut berlomba mengejar rating agar dapat mendatangkan iklan. Misi dakwah menjadi tidak efektif, karena yang ditangkap pemirsa hanya dari sisi hiburannya. “Sementara kiai-kiai yang mengisi program-program bermisi dakwah pun kebanyakan hanya kai-kai instant yang tidak memiliki kedalaman ilmu dan intuisi. Sehingga posisinya pun sebenarnya hanya sebatas seperti selebritis atau entertaint,” tambahnya.
Menurut Yudhariksawan, dalam posisi pertelevisian nasional seperti itu maka Komisi Penyiaran Indonesia dituntut memiliki kepekaan untuk senantiasa bersinergi dengan lembaga-lembaga televisi agar program-program yang ditayangkan tidak semakin kebablasan, karena hanya mengejar iklan atau tunduk dengan apa yang diinginkan kelompok kapitalis.
Prof Dr H Akh Minhaji MA, PhD yang juga Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga dalam kesempatan itu menegaskan pentingnya pemerintah bersikap tegas serta berperan aktif dalam berbagai persoalan yang terjadi belakangan ini. Terlebih lagi televisi bukanlah suatu lembaga yang sepi dari pengaruh pemberitaan di masyarakat, karena itu negara haruslah tetap berperan besar dalam menjaga agar tayangan televisi tidak berpengaruh negatif terhadap masyarakat. (s eka ardhana)
