Pasar Obligasi Terbentur Kurangnya Sentimen Positif

Loading

pasar-obligasi

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, laju pasar obligasi memiliki peluang kembali melanjutkan kenaikan. Adapun kondisi tersebut telah terjadi namun, pergerakan positif tersebut cenderung berkurang seiring mulai adanya aksi ambil untung dengan memanfaatkan sentimen pelemahan nilai tukar Rupiah.

Selain itu, belum jelasnya imbas dari kebijakan Pemerintah terkait perubahan harga BBM yang nantinya dapat berpengaruh besar maupun kecil terhadap inflasi juga menjadi faktor kurangnya pergerakan positif di pasar obligasi.

Penurunan pergerakan positif ini terlihat dari tidak terlalu besarnya penurunan yield yang dapat diasumsikan harga tidak terlalu naik signifikan. “Pergerakan laju obligasi pun bergerak dalam rentang estimasi kami di rentang ±45 hingga 100 bps. Pergerakan yield secara mingguan kembali berbalik turun di hampir seluruh tenor,” ungkap Reza, Senin (12/1/15).

Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan rata-data yield -2,92 bps; tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan yield sekitar -0,05 bps; dan tenor panjang (8-30tahun) turut mengalami penurunan yield sekitar -0,80%.

Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo ±5 tahun mampu melanjutkan penguatan 58,24 bps. Sementara dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±10 tahun mengalami kenaikan harga 57 bps.

Pemerintah telah melaksanakan lelang Surat Utang Negara pada tanggal 6 Januari 2015 untuk seri SPN03150407 (New Issuance), SPN12160107 (New Issuance), FR0070 (reopening) dan FR0068 (Reopening) melalui sistem lelang Bank Indonesia. Total penawaran yang masuk sebesar Rp22,875 triliun atau hampir 2 kali lipat dari target indikatif yang senilai Rp 12 triliun.
“Dari total penawaran yang masuk tersebut, pemerintah menyerap sesuai nominal target indikatif.

Dari 4 seri SUN tersebut FR0070 menjadi seri yang paling banyak mendapat total penawaran senilai Rp 6,69 triliun. Di tempat tertinggi kedua merupakan SPN03150407 sebesar Rp 6,62 triliun. Selanjutnya SPN12160107 dan FR0068 masing-masing Rp 5,51 triliun dan Rp 4,03 triliun,” tutur Reza.

Sementara pemerintah menetapkan jumlah nominal yang dimenangkan paling tinggi yakni SPN12160107 sebesar Rp 4 triliun. Selanjutnya FR0068 Rp 3,55 triliun, FR0070 Rp 3,45 triliun dan SPN03150407 Rp 1 triliun. FR0068 mendapat yield tertinggi yang masuk sebesar 8,81%. Yield terendah yang masuk merupakan SPN03150407 sebesar 5,98%. Sementara tingkat yield tertinggi yang dimenangkan pemerintah sebesar 8,43% pada FR0068. Yield terendah yang dimenangkan pemerintah sebesar 5,99% pada SPN03150407.

Di sisi lain, Pada tanggal 9 Januari 2015 (8 Januari 2015 waktu New York), Pemerintah juga telah melakukan transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi US dollar seri RI0125 dan RI0145 yang masing-masing bertenor 10 tahun (jatuh tempon 15 Januari 2025) dan 30 tahun (jatuh tempon 15 Januari 2045) dan diterbitkan dengan nominal masing-masing US$ 2 miliar.

Adapun RI0125 menawarkan tingkat kupon 4,125% dan yield 4,200%. Sementara RI0145 menawarkan tingkat kupon 5,125% dan yield 5,200%. Transaksi ini merupakan bagian dari Program Global Medium Term Notes (GMTN) Republik Indonesia sebesar US$30 miliar. Final pricing (yield) tersebut, 30 bps lebih ketat dari initial price guidance yaitu 4,5% untuk tenor 10 tahun dan 5,5% untuk tenor 30 tahun.

Sedangkan total penawaran yang masuk (total order book) untuk seri RI0125 dan RI0145 adalah sebesar US$19,3 miliar, sehingga terdapat oversubscription sebesar 4,8 kali. “Total penawaran ini merupakan penawaran terbesar yang pernah dicapai Pemerintah untuk transaksi penjualan SUN dalam valuta asing berdenominasi US dollar,” imbuh Reza.

Pendistribusian untuk seri RI0125 adalah 48% untuk investor Amerika Serikat, 24% untuk investor Eropa, 15% untuk investor Asia (ex. Indonesia), dan 13% untuk investor di Indonesia. Berdasarkan jenis investor, pengalokasian penawaran yang diterima kepada asset managers adalah sebesar 73%, bank 14%, asuransi/dana pensiun 9%, private banks 2%. dan sovereign wealth funds 2%. Sedangkan distribusi untuk seri RI0145 adalah sebesar 53% untuk investor Amerika Serikat, 23% untuk investor Eropa, 20% untuk investor Asia (ex. Indonesia), dan 4% untuk investor di Indonesia.

Berdasarkan jenis investor, pengalokasian penawaran yang diterima kepada asset managers adalah sebesar 75%, bank 8%, asuransi/dana pensiun 13%, private banks 2%. dan sovereign wealth funds 2%. Republik Indonesia memperoleh rating BBB- (stable) dari Fitch, BB+ (stable) dari S&P, dan Baa3 (stable) dari Moody’s.

Tidak berbeda dengan ulasan di minggu sebelumnya dimana meski laju pasar obligasi memiliki peluang kembali melanjutkan kenaikan namun, tampaknya sentimen positif dan volume transaksi beli mulai berkurang sehingga perlu diwaspadai adanya aksi jual yang akan mengurangi peluang tersebut dan membuat laju pasar olbigasi berbalik melemah. Kemungkinan laju harga obligasi akan bergerak dengan rentang ±25 hingga 100 bps. Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada.

Pemerintah Indonesia akan melakukan Lelang Penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada hari Selasa, tanggal 13 Januari 2015. Seri-seri SBSN yang akan dilelang adalah SBSN berbasis proyek (Project Based Sukuk) yaitu seri PBS006 (reopening) yang menawarkan imbal hasil 8,25% tenor 5 tahun, PBS007 (reopening) yang menawarkan imbal hasil 9,00% tenor 25 tahun, dan PBS008 (new issuance). Selain itu juga akan dilelang Sukuk Negara dengan seri SPN-S 14072015 (new issuance) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2015. (angga)

CATEGORIES
TAGS