Rupiah Masih Menunjukkan Pelemahan Lanjutan
![]()

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, laju Rupiah makin menunjukkan pelemahannya di awal pekan kemarin.
Apalagi pasca laju Euro melemah setelah terdapat sentimen dari rencana ECB yang akan mempertimbangkan untuk segera merealisasikan program pembelian obligasi dari beberapa Negara di Euro Zone dan kekhawatiran akan kembali terjadinya krisis Yunani, terutama beredarnya spekulasi akan keluarnya Yunani dari Zona Euro.
Masih berlanjutnya pelemahan pada laju harga minyak mentah membuat pelaku pasar lebih memilih ke aset save heaven, US$ dan Yen. “Laju Rupiah belum menunjukkan adanya perbaikan dimana masih menunjukkan pelemahan lanjutannya,” ungkap Reza, Senin (12/1/15).
Masih adanya imbas dari berlanjutnya pelemahan harga kontrak minyak mentah dunia dimana pelaku pasar lebih memilih pada aset-aset safe heaven, diantaranya US$. Di sisi lain masih adanya kekhawatiran terhadap masalah Yunani yang melemahkan Euro juga turut berimbas negatif pada Rupiah.
Terapresiasinya Yuan seiring rilis rencana Pemerintah China untuk mendorong pengerjaan proyek infrastruktur senilai 7 triliun Yuan, belum cukup mampu direspon positif pelaku pasar. Masih berlanjutnya pelemahan Euro dan kembali berbalik turunnya Yen membuat US$ berkesempatan untuk menguat dan berimbas pada pelemahan mata uang lainnya.
Kebetulan juga dari dalam negeri belum ada trigger positif yang dapat membuat Rupiah menguat dan sempat adanya antisipasi pelaku pasar terhadap imbas dirilisnya hasil meeting The Fed di Desember yang lalu sehingga membuat pelaku pasar lebih memilih mentransaksikan US$.
“Terutama setelah rilis kenaikan data-data AS berupa MBA mortgage applications, chain store sales, ADP employment, hingga neraca perdagangan yang lebih baik dari estimasi sehingga laju Rupiah pun sulit untuk bangkit,” imbuh Reza.
Pasca rilis hasil pertemuan The Fed pada Desember lalu dimana The Fed masih bersikap sabar dalam menaikan suku bunganya membuat kenaikan pada US$ pun tidak terlalu tinggi dibandingkan sebelumnya dan Rupiah pun tidak terlalu melemah dalam. Rp 12.850-12.525 (kurs tengah BI). (angga)
