Optimisme
![]()
Oleh: Edi Siswojo

Edi Siswojo
OPTIMISTIS perlu karena optimisme merupakan energi bagi kita untuk tetap hidup. Optimisme itu seperti oksigen (udara) yang kita hirup setiap saat. Kekurangan oksigen bisa membuat kita loyo, lemas, lunglai dan mati. Sikap optimis perlu kita miliki mengiringi pengesahan Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN) tahun 2014.
Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pekan lalu, mengesahkan APBN 2014. Ditargekan penerimaan negara–bertambah Rp 165 triliun dari Rp 1.502 triliun pada APBN-P 2013–Rp 1.667 triliun pada APBN 2014. Selain itu, pertumbuhan ekonomi nasional diasumsikan mencapai 6 persen dengan inflasi 6,5 persen dan nilai tukar rupiah dipertahankan relatif stabil pada kisaran angka Rp 11.000-an.
Kapasitas APBN 2014 tersebut memberikan optimisme. Soalnya, pemerintah telah membuat sejumlah kebijakan untuk menyehatkan perekonomian Indonesia. Diantaranya, menaikkan pajak impor barang mewah dan memberikian isentif pajak kepada industri dengan kandungan teknologi tinggi dan melakukan riset. Bioenergi dari kelapa sawit wajib digunakan untuk mengurangi impor minyak diesel.
Kebijakan tersebut layak diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 akan lebih tinggi dari tahun 2013. Kecerahan ekonomi Indonesia juga ikut dipastikan oleh berkurangnya efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan didorong oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang relatif stabil pada kisaran Rp 11.000-an.
Optimisme boleh tapi sikap waspada harus tetap dijaga. Sebab, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan serius diantaranya defisit transaksi berjalan dan kebutuhan energi. Defisit yang terjadi selama ini telah membuat gejolak nilai tukar rupiah anjok–mencapai Rp 12.000–saat terjadi gejolak perekonomian dunia yang diringi defisit perdagangan. Begitu juga meski beban subsidi BBM dan energi listrik telah berkurang, namun naiknya kebutuhan energi karena berkembangnya ekonomi nasional merupakan tantangan tersendiri.
Sikap optimistis perlu dan kewaspadaan juga penting. Optimisme dan kewaspadaan harus tetap kita jaga bersama agar mentari ekonomi Indonesia tetap bersinar. Kecerahan sinar mentari ekomnomi nasional 2014 bisa terjadi jika disertai keseriusan sikap pemerinah melakukan penyerapan APBN dengan baik tanpa disertai korupsi! ***
